0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

THR Sriwedari Gulung Tikar, Pedagang Pasrah

Pintu masuk THR Sriwedari (timlo.net/heru gembul)

Solo — Pedagang sekitar Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari menanggapi dingin terkait keputusan berhenti beroperasinya wahana hiburan yang sudah beroperasi 32 tahun itu. Pedagang mengaku pasrah, dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Lha mau gimana to Mas. Kalau tutup ya sudah. Mosok saya yo ikut jualan ke Jurug, kan yo nggak mungkin.” kata Giyem salah satu pedagang angkringan di Sriwedari.

Giyem mengatakan, keberadaan THR memang cukup mampu mendatangkan pengunjung ke taman Sriwedari. Banyaknya pengunjung itu berimbas pada penjualannya yang meningkat.

“Ya paling rame kalau ada dangdutan atau musik lainnya. Trus pada beli wedang disini,” kata perempuan 53 tahun tersebut.

Sementara salah seorang petugas parkir Parno mengatakan memang kondisi THR hanya ramai pada saat liburan sekolah, dan pertunjukan musik saja. Di siang hari, pengunjung hampir-hampir tidak ada.

“Ya kalau ada musik ya bisa dapat Rp 50-70 ribu. Kalau enggak ada ya enggak parkir.” kata dia.

Seperti diberitakan, THR Sriwedari terpaksa tutup karena tidak mampu memenuhi persyaratan yang ditetapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo. Pemkot Solo mematok harga sewa lahan Rp 1.000 per meter persegi untuk satu hari. Dengan lahan seluas dua hektar, THR Sriwedari harus membayar Rp 20 Juta per hari atau setara Rp 600 juta per bulan. Angka ini melonjak tajam dari sewa lahan di Sriwedari yang hanya dipatok Rp 38 Juta per bulan.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge