0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Suro, Belasan Keris Dijamasi, Ini Prosesnya

Proses jamasan keris di Museum Keris Solo (dok.timlo.net/desmon)

Solo — Sebanyak 14 pusaka berbentuk keris milik masyarakat dijamas (dibersihkan) di Besalen (tempat menempa keris) di Halaman Museum Keris, Rabu (11/10). Keris-keris tersebut dibersihkan dalam rangka bulan Suro, seperti adat kebiasaan masyarakat Jawa.

“Sebenarnya tidak harus bulan Suro ya, tapi karena memang sudah terbiasa di masyarakat membersihkan satu tahun sekali, ya tidak apa-apa dilakukan,” ungkap Kepala UPT Museum, Bambang M Budi Santoso.

Proses pembersihan keris, dilakukan sejak empat hari yang lalu, dengan merendam keris dengan air Kelapa. Tujuannya adalah untuk melunakkan kotoran dan karat yang menempel pada keris.

Proses selanjutnya adalah dengan menggosok keris dengan jeruk nipis dan abu gosok. Jika karat terlalu keras, bisa juga digosok dengan sabut kelapa.

Setelah itu, keris akan direndam dengan larutan warangan. Warangan terbuat dari cairan Arsenik yang dicampur dengan air jeruk nipis. Perendaman ini dilakukan beberapa kali. Hal ini dilakukan untuk mengeluarkan pamor pada Keris.

Setelah itu, keris bisa dimiyaki dengan minyak Cendana Wangi, Cendana Putih atau Arum Dalu. Keris lantas bisa dimasukkan kedalam rangkanya dan disimpan.

“Penjamasana ini sebenarnya disesuaikan kebutuhan saja. Kalau kotor ya dijamas, kalau tidak ya cukup diminyaki lagi saja,” katanya.

Rencananya Museum Keris akan melakukan upacara jamasan pusaka setiap tahun di bulan Suro. Upacara jamasan pusaka ini diperuntukkan bagi masyarakat yang ingin merawat benda pusaka miliknya.

“Memang tidak terlalu sukar untuk melakukan penjamasan sendiri di rumah. Namun karena caisar Arsenik ini tidak dijual bebas, jadi masyarakat biasanya tidak melakukan jamasan secara pribadi, melainkan secara kolektif, nah keberadaan Museum bisa memfasilitasinya,” imbuh Bambang.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge