0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Gara-gara Dwi Hartono, AKPRIND Minta Maaf kepada Habibie

Dwi Hartanto (merdeka.com)

Timlo.net – Terungkapnya kebohongan Dwi Hartono yang mengaku ahli kedirgantaraan dan roket, Institut Sains dan Teknologi (IST) AKPRIND Yogyakarta ikut menanggung getahnya. Sebab, Dwi Hartono pernah menyelesaikan jenjang S1 di AKPRIND Yogyakarta.

“Secara lembaga, AKPRIND akan meminta maaf kepada Habibie. Jika memungkinkan AKPRIND akan bertemu langsung dengan Habibie untuk memintas maaf,” ungkap Rektor IST AKPRIND Amir Hamzah saat konferensi pers di Kampus IST AKPRIND, Selasa (10/10).

Amir mengatakan, pihaknya memiliki beban moril seandainya tidak meminta maaf kepada Habibie. Beban moril yang ditanggung ini diharapkan bisa tuntas setelah bertemu Habibie.

“Beban moril bagi kami, dan menjadi lega kalau secara lembaga, kalau dimungkinkan menemui. Kalau memungkinkan bisa secara personal untuk berjumpa dengan beliau Bapak Bangsa, Bapak Teknologi, syukur-syukur kita bisa mengundang beliau ke sini. Kalau tidak dimungkinkan kami akan mengirim surat resmi (permintaan maaf),” urai Amir.

Amir menuturkan apapun yang terjadi, Dwi Hartanto merupakan alumnus dari IST AKPRIND. Meskipun Dwi sempat tidak mengakui IST AKPRIND sebagai almamaternya.

“Meskipun dia tidak mengakui kami sebagai bapaknya. Dia tetaplah alumnus IST AKPRIND,” jelas Amir.

Pihak kampus pernah melakukan penelusuran saat prestasi Dwi Hartanto banyak dipublikasikan media. Bahkan sempat berusaha mencari cara agar bisa bertemu dengan Dwi Hartanto.

“Jika bisa dihubungi IST AKPRIND waktu itu akan kita undang jadi pembicara. Supaya kisah keberhasilannya bisa menjadi motivasi bagi adik-adik kelasnya,” ungkap Amir.

Amir bahkan berencana jika bisa menghubungi Dwi hartanto akan membuat baliho berisi prestasi tentangnya. Baliho itu rencananya akan dipasang di lingkungan kampus IST AKPRIND.

“Ya dibikinkan baliho di kampus untuk motivasi mahasiswa lainnya. Seperti saat tim kami juara kontes robot beberapa waktu yang lalu,” urai Amir.

Amir mengaku sedikit beruntung bahwa ternyata kegagalannya menghubungi Dwi Hartanto justru menjadi berkah saat ini. Amir mengaku akan semakin sulit menjelaskan tentang Dwi Hartanto seandainya baliho dan acara mengundangnya bisa terselenggara.

“Jadi kami merasa beruntung. Jika kemarin bisa mengontak akan semakin sulit lagi menjelaskannya. Saat ini kami tidak bisa melakukan apa-apa (pada Dwi Hartanto). Kami hanya bisa menyayangkan perbuatannya saja,” ungkap Amir.

Dwi Hartanto tercatat menjadi mahasiswa IST AKPRIND Yogyakarta di tahun ajaran 2001. Dwi Hartanto berhasil merampungkan studinya di jurusan Teknik Informatika tahun 2005 dengan predikat cum laude.

Dosen pembimbing Dwi Hartanto dalam menyusun skripsi, Yulia Rahmawati menuturkan, selama di bawah bimbingannya, Dwi Hartanto kerap menceritakan cita-citanya untuk menjalani studi di luar negeri. Cita-cita ini beberapa kali disampaikan Dwi Hartanto kepada Yulia.

“Saya membimbing Dwi Hartanto untuk menyusun skripsi selama enam hingga delapan bulan. Saya lupa pastinya karena sudah 12 tahun yang lalu. Selama bimbingan dengan saya ya seperti mahasiswa pada umumnya,” terang Yulia.

Yulia menceritakan bahwa selama dalam bimbingannya menyelesaikan skripsi berjudul “Membangun Robot Cerdas Pemadam Api Berbasis Algoritma Kecerdasan ANN (Artificial Neural Network)”, tak ada yang terlalu spesial. Adu argumen, lanjut Yulia memang terjadi beberapa kali tetapi masih dalam batas yang wajar.

“Waktu bimbingan dengan saya dia mahasiswa yang baik. Saat interaksi pun tidak ada yang aneh. Kalau pun bercerita ya tentang cita-cita dan keinginannya melanjutkan studi di luar negeri,” papar Yulia.

Kepada mantan mahasiswa bimbingannya itu, Yulia berharap agar ada perubahan dan perbaikan dalam diri Dwi Hartanto. Yulia juga berharap agar Dwi Hartanto mau meminta maaf kepada Rektor IST AKPRIND.

“Ya saya harap dia mau memperbaiki sikapnya. Saya harap juga bisa terus mengembangkan potensi yang dimilikinya. Ibu mana yang tidak ingin melihat anaknya jadi lebih baik lagi,” jelas Yulia.

[cob]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge