0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Hilirisasi Hasil Penelitian Masih Minim

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof Dr Sulityo Saputro (dok.timlo.net/tyo eka)

Solo — Hingga saat ini hilirisasi hasil penelitian masih minim. Dengan kata lain, hasil penelitian perguruan tinggi, tidak semuanya dapat langsung diterapkan, diproduksi dan dihilirisasi ke industry.

“Namun demikian kami terus memacu dan mendorong para peneliti untuk melaksanakan himbauan Menristekdikti terkait hilirisasi dan komersialisasi hasil riset,” ungkap Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof Dr Sulityo Saputro kepada wartawan, di Kampus UNS, Solo, Selasa (10/10).

Sulistyo menjelaskan, ada 3 jenis penelitian, yakni penelitian dasar, penelitian terapan dan penelitian untuk pengembangan. Jenis-jenis penelitian itu disesuaikan dengan konsep Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) yang berjenjang dari TKT 1 hingga 9.

“Dan sejauh ini penelitian skala dasar atau laboratorium belum memungkinkan untuk hilirisasi, demikian pula untuk penelitian terapan, dan yang wajib dihilirisasikan yakni penelitian type TKT 9, karena telah memiliki strandarisasi,  telah melalui uji  kelayakan, dan memiliki prototype,” ungkapnya.

Dicontohkan, hasil riset group LPPM UNS dengan Ketua  Agus Purwanto yang telah diproduksi yakni Baterei lithium Ferofosfat LiFePO4. Baterei yang dihasilkan itu sudah memiliki Standart Nasional Indonesia (SNI), kerjasama dengan Badan Standarisasi Nasional (BSN).

“Kita sudah tandatangani MOU dengan BSN, dan sampai tahun 2019 setidaknya kita hasilkan 5 SNI, semuanya berkait dengan sel baterei lithium itu sendiri, baterei manajemen sistem, modul baterei lithium, ukuran baterei, dan satu aspek lagi baterei ion lithium,” jelasnya.

Baterei Lithium tersebut, menurut Sulistyo, memang telah diproduksi di Pusat Pengembangan Bisnis Pusbangnis UNS, namun masih dalam skala kecil. Untuk produksi yang lebih besar, diperlukan investor, karena dana penelitian tidak mencukupi untuk membeli mesin berkapasitas tinggi.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge