0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

ISIS Iming-Imingi Penjahat Kelamin Peluang Perkosa dan Perbudak Wanita

Ilustrasi ISIS (dok.merdeka.com)

Timlo.net—ISIS berhasil merekrut para penjahat kelamin dan pria dengan riwayat kekerasan rumah tangga. Mereka diiming-imingi kesempatan untuk memperkosa dan memperbudak masyarakat. Temuan ini berasal dari sebuah penelitian baru. Organisasi teroris itu menggunakan kekerasan seksual untuk menarik perhatian para penjahat kelamin, tulis Henry Jackson Society.

Para ekstrimis itu rupanya menggunakan kekerasan seksual termasuk perkosaan, perbudakan seksual, pernikahan paksa untuk merekrut orang. Selain itu kejahatan seksual itu digunakan untuk membuat para pejuang mereka merasa berani dan untuk menghukum musuh. Para pria dari masyarakat Muslim yang sangat konservatif dikabarkan tertarik bergabung. Hal ini karena mereka berasal dari budaya di mana pacaran dan hubungan intim di luar pernikahan sebagai hal tabu.

Para teroris itu juga dikabarkan menggunakan perdagangan manusia, termasuk budak seks dengan usia paling muda 10 tahun untuk mendanai aksi terorisme. Yvette Cooper, kepala wanita dari the influential Commons Home Affairs Select Committee berkata, “ISIL, Boko Haram dan kelompok jahat lainnya semakin sering menggunakan perdagangan manusia sebagai aliran pemasukan—dan kami tahu jika para teroris menggunakan kekerasan seksual sebagai salah satu senjata untuk memecah dan menciptakan ketakutan di antara komunitas. Hal ini penting untuk dikenali sebagai arti teror dalam hukum kita saat ini.”

Laporan berjudul “Trafficking Terror” itu tulis Metro.co.uk, juga menunjukkan para teroris menggunakan cara seperti penyelundupan imigran, pencucian uang, perdagangan manusia, penjualan obat terlarang dan penyelundupan senjata api sebagai cara menghasilkan uang.

Peneliti Nikita Malik menambahkan pembayaran uang tebusan seringkali dihubungkan dengan kekerasan seksual. “Masyarakat internasional harus mengenali dan menghadapi hubungan antara kriminalitas dan keamanan. Aliran pemasukan historis seperti pajak dan penjualan minyak kepada kelompok seperti Negara Islam dan Boko Haram menurun. Hal ini digantikan dengan penyanderaan dan permintaan tebusan, berarti perbudakan modern bisa meningkat saat Daesh berusaha mempertahankan pemasukan mereka,” ujarnya. Penelitian itu menyarankan hukum di UK diartikan lebih luas dalam rangka melawan kekerasan seksual yang digunakan sebagai taktik terorisme.

 

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge