0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Bersih Makin Dicari, Mahal pun Dibeli

(foto: Tami)

Timlo.net – Satu dekade lalu, istilah cleaning service mungkin masih identik dengan segmen korporasi. Bahkan jasa cleaning service merupakan salah satu dari beberapa bidang yang boleh dialihdayakan atau outsourcing. Dalam UU no 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan disebutkan usaha pelayanan kebersihan (cleaning service) termasuk salah satu kegiatan penunjang. Sebanding dengan jasa penyediaan makanan (catering), dan keamanan.

Berurusan dengan bidang kebersihan memang bukan perkara gampang. Bertolak belakang dengan namanya, bidang kebersihan justru selalu berurusan dengan kotoran. Sesuatu yang tidak disukai oleh semua orang. Tak heran bila mencari tenaga kebersihan menjadi tantangan yang sulit. Bahkan untuk instansi sekelas Pemerintah Kota (Pemkot Solo) sekalipun.

“Jarang tenaga kontrak yang awet. Paling cuma tahan beberapa bulan,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Hasta Gunawan saat berbincang dengan TimloMagz belum lama ini.

Karena sulit mencari tenaga kebersihan, Pemkot pun mengalihdayakan kebutuhan tenaga kebersihan. Hal ini berlangsung sejak 2003, tak lama setelah regulasi memungkinkan Pemkot mengadakan alihdaya, hingga saat ini. Bahkan DLH menyediakan anggaran hingg miliaran rupiah untuk tenaga kebersihan.

Fenomena alihdaya tenaga kebersihan ini pun terus meluas. Tak hanya korporasi, jasa kebersihan pun perlahan merembes ke pasar keluarga. Bahkan individu. Hal ini tak lepas dari pesatnya kemajuan teknologi yang membuat alat-alat kebersihan menjadi kian terjangkau.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi yang sempat melonjak pada periode 2010-2012 berhasil mendorong tumbuhnya kelas menengah baru.

Menurut data yang dirilis Credit lyonnais Securities Asia tahun 2011, pengeluaran rata-rata kelas menengah di Indonesia mencapai Rp 50-100 ribu per hari. Dengan rentang pengeluaran di angka itu, warga kelas menengah memiliki fleksibilitas untuk mengalihkan sebagian tugas kebersihan rumahan ke penyedia jasa. Meski belakangan pertumbuhan ekonomi bangsa cenderung stagnan, angka tersebut bisa dibilang relatif tetap.

Tren ini pun ditangkap oleh banyak pengusaha baru di bidang kebersihan. Mereka fokus mencari tenaga yang tak segan bergumul dengan kotoran, debu dan sampah.

Para pengusaha pun semakin getol dengan menyediakan layanan yang fokus pada produk tertentu. Pakaian (laundry), cuci tas, sepatu, bahkan helm, pun menjamur sejak beberapa tahun belakangan.

Di antara perusahaan yang cermat menangkap peluang ini ada Clean House dan SOC Clean. Dua-duanya adalah perusahaan penyedia jasa kebersihan yang cukup mentereng di Solo.

Hebatnya, dua-duanya sama-sama dirintis oleh pengusaha muda. Clean House misalnya, dirintis duo Fahmi Toriq Sungkar dan Andre Fatkhi 2015 lalu. Dari bisnis sampingan, dua pemuda itu kini serius menggarap bisnis penyedia jasa kebersihan rumah itu.

“Perkembangan jaman saat ini membuat masyarakat ingin yang praktis, efisien dan terjangkau. Termasuk dalam jasa membersihkan rumah,” kata dia.

Lain halnya dengan SOC Clean. Dirintis oleh duet Muhammad Fakih Fikri dan Aulia Rahma tahun 2015 lalu, SOC Clean fokus pada jasa perawatan sepatu dan tas.

Saat itu, jasa perawatan sepatu belum banyak dikenal masyarakat. SOC Clean pun harus kerja ekstra untuk mengenalkan bisnisnya ke pelanggan potensial. Bahkan Rahma sampai pontang-panting “jemput bola” ke rumah-rumah pelanggan. Setelah bergulat di jasa perawatan sepatu, SOC Clean pun kini banyak dikenal, bahkan memiliki pelanggan tetap.

“Kita memilih produk berkualitas untuk merawat sepatu pelanggan. Saya tidak berani main-main karena bisnis perawatan sepatu dan tas sangat tergantung pada produk yang kita pakai,” tutur Rahma.

Moncernya bisnis kebersihan ini tentunya tak lepas dari pasarnya yang terus tumbuh. Seperti kota-kota yang terus berkembang, Solo dan sekitar kian menuntut penduduknya agar cepat, efektif dan efisien.

Salah satunya dengan mengalihkan pekerjaan domestik, termasuk urusan bersih-bersih rumah dan perabot, kepada penyedia jasa khusus. Dengan mengalihkan urusan kebersihan kepada penyedia jasa khusus, masyarakat memiliki waktu lebih untuk bekerja. Atau bahkan untuk keluarga.

“Daripada bayar pembantu, lebih ngirit pakai jasa. Selisihnya bisa separuh lebih,” kata salah satu pengguna jasa, Rahmawati yang tinggal di kawasan Mojosongo.

Tak hanya memberi keleluasaan membagi waktu, memanfaatkan penyedia jasa kebersihan, menurut Rahma, memberikan hasil yang lebih maksimal dibanding dikerjakan sendiri. Penyedia jasa umumnya fokus di bidang tertentu untuk menjaga kualitas.

“Bisa dibilang mereka yang paling paham. Untuk bahan ini harus pakai pembersih apa, Teknik memberishkannya bagaimana,” tuturnya.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge