0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Holy Clean, Karena Bersih itu Sehat

(foto: Tami)

Timlo.net – Jatuh bangun saat merintis sebuah usaha bukan hal asing bagi Aditya Hadi Raharja. Justru dari pengalaman yang ia dapatkan itu, banyak pelajaran yang ia petik untuk memantapkan diri sebagai seorang entrepreneur.

Sebelum sukses dengan usaha baru yang ditekuninya sekarang, pria kelahiran Semarang tahun 1985 ini mengaku pernah gagal saat berbisnis digital printing. Namun dengan cepat dia menangkap peluang baru, mendirikan usaha di bidang kebersihan untuk kesehatan yang diberi nama Holy Clean.

Pria yang akrab disapa Aditya ini mengaku Holy Clean yang ditekuninya itu berbeda dengan usaha jasa cleaning service pada umumnya. Pasalnya, jasa kebersihan yang ditawarkannya itu lebih fokus kepada layanan vakum debu dan tungau penyebab alergi yang biasa terdapat pada perabot soft furniture, seperti sofa, kasur, matras, karpet dan lainnya.

“Saya tertarik dengan usaha ini karena belum terlalu banyak pesaingnya. Dan di Solo sendiri saya melihat pasarnya cukup potensial,” ujar alumnus Universitas Petra Surabaya tahun 2008 ini kepada TimloMagz.

Dia mengaku mendapatkan ide bisnis itu saat melihat keponakannya yang terkena iritasi atau ruam pada kulit. Saat dilakukan pengobatan di rumah sakit, dokter yang menanganinya mengindikasikan ada semacam bakteri berupa tungau yang menjadi penyebab. Dokter pun menyarankan untuk membersihkan rumahnya dengan cara menggunakan vakum khusus tungau.

“Awalnya kita sempat order jasa yang menyediakan vakum khusus tungau dari Jakarta. Namun karena terlalu lama datangnya, akhirnya kita berinisiatif untuk membeli alatnya langsung. Dan setelah dilakukan pembersihan beberapa kali dirumah, ternyata benar terbukti. Ruam pada kulit keponakan berangsur sembuh, dan alergi batuk pilek yang diderita sebelumnya juga berangsur berkurang,” jelasnya.

Dari pengalaman tersebut, akhirnya ia mendapatkan ide bisnis untuk mengembangkannya di Solo yang sekarang sebagai kota domisilinya. Kendati usaha itu baru dirintis pada akhir tahun yang lalu, namun Aditnya mengatakan respon pasar sejauh ini cukup positif. Bahkan sekarang dalam sehari orderan yang masuk ditempatnya bisa mencapai tiga hingga lima orang.

Dengan melihat manfaat kesehatan yang dirasakan bagi pemilik rumah, tarif jasa yang ditawarkan juga bisa dibilang cukup terjangkau. Misalnya untuk membersihkan korden, dihargainya sekitar Rp 7 ribu per meter. Sedangan kasur single dengan ukuran 120 ia mematok harga sekitar Rp 80 ribu.

“Untuk ukuran bisnis yang baru dirintis omsetnya terbilang cukup lumayan. Sebulan kalau kondisi ramai bisa mencapai angka sekitar Rp 10 juta,” ungkapnya.

Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam hal kesehatan, ia melihat usaha yang digelutinya sekarang memiliki prospek cukup cerah. Bahkan untuk mengembangkan usahanya itu, ia sudah berencana melakukan ekspansi keberbagai kota untuk membuka cabang. Termasuk juga merancang konsep kemitraan sebagai strategi untuk menyiasati minimnya modal.

Bagi Aditya capaian usahanya yang dilakukan sekarang ini tidak terlepas dari didikan orang di sekitarnya. Bahkan sejak kecil ia mengaku sudah ditanamkan oleh orangtuanya untuk mandiri. Bukan seperti kebanyakan orang yang sukses dengan mengandalkan ijazah (sebagai karyawan), melainkan sebagai seorang entrepreneur atau berwirusaha.

“Karena memang orang tua basicnya adalah wirausaha. Jadi sejak kecil saya sudah ditanamkan untuk bisa menjadi pengusaha,” tandasnya.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge