0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Tiga Faktor yang Mempengaruhi Pesta Seks di Lokasi Kebugaran

Asisten Manager RPM Body Fitness, Stadion Manahan Solo, Jerry Lolowang (timlo.net/achmad khalik)

Solo – Penyalahgunaan lokasi gym dan sauna menjadi ‘sarang’ pesta seks kaum gay saat ini mendapat sorotan tajam. Stigma negatif masyarakat mengarah pada lokasi kebugaran tersebut makin kencang setelah Polisi mengungkap kasus pesta seks yang dilakukan kaum gay di Atlantis Gym, Kelapa Gading, Jakarta Utara pada 23 Mei dan di lokasi Sauna and Spa di Ruko Plaza Harmoni Blok A, Gambir, Jakarta Pusat pada Jumat (6/10) kemarin.

“Memang, kami akui sorotan masyarakat tentang tempat kebugaran khususnya gym atau tempat fitness saat ini saat ini sedang miring (negatif-red) setelah munculnya pemberitaan lokasi kebugaran digrebek polisi lantaran digunakan untuk pesta seks,” terang Asisten Manager RPM Body Fitness, Stadion Manahan Solo, Jerry Lolowang saat ditemui Timlo.net, Senin (9/10) siang.

Menurut Jerry, ada tiga faktor yang mempengaruhi tempat kebugaran menyimpang menjadi ‘sarang’ tempat maksiat. Ketiga faktor tersebut mulai dari ijin pendirian lokasi kebugaran, faktor pengelolaan tempat kebugaran hingga komunitas yang melakukan latihan di tempat kebugaran tersebut. Ketiga faktor ini sangat terkait sehingga mengakibatkan lokasi fitness dijadikan lokasi maksiat.

Faktor pertama, kata Jery adalah tentang ijin pendirian lokasi itu sendiri. Dalam hal ini,  pengelola harus benar-benar memfungsikan lokasi yang akan didirikan sebagai tempat kebugaran untuk menjaga stamina dan kesehatan. Bukan untuk tempat yang lain, atau hanya kedok kamuflase guna melancarkan tempat maksiatnya tersebut.

“Dari ijin ini dapat diketahui keseriusan pengelola untuk mendirikan tempat kebugaran. Apakah hanya asal-asalan, atau memang benar-benar untuk kebugaran,” jelas pria yang juga mantan atlet basket nasional tersebut.

Faktor berikutnya, lanjut Jerry adalah keseriusan dari pengelola fitness agar lokasi yang difungsikan sebagai tempat kebugaran tidak disalah gunakan. Upaya yang dilakukan, bisa dengan mendesain tempat-tempat khusus bersifat privat yang ada di lokasi fitness tersebut untuk meminimalisir penyimpangan yang terjadi.

“Misalnya, tempat mandi yang memang didesain cukup untuk satu orang. Atau, melakukan pengawasan di tempat ruang ganti. Dengan begitu, tidak akan menimbulkan kesempatan untuk melakukan perbuatan menyimpang,” jelasnya.

Dan yang terakhir, adalah faktor komunitas atau member di tempat fitness. Jika banyak member di tempat fitnes memiliki orientasi seks yang lurus maka mereka yang memiliki orientasi penyimpangan seks tidak akan berani berbuat yang aneh. Sehingga, jangankan menggelar pesta seks untuk menunjukkan sifat gay pun akan merasa malu.

“Biasanya, mereka memilih untuk menghindar dan bergabung dengna sesama yang memiliki orientasi gay,” ungkap Jerry.

Meski memiliki orientasi seks yang menyimpang, tambah Jerry, mereka tetap sebagai manusia. Tidak seharusnya, mereka dikesampingkan dan dilabeli negatif mengingat prinsip kemanusiaan yang harus dijunjung tinggi.

“Memang sangat disayangkan, tapi sebagai manusia kita tetap menghargai dan menghormati sebagai sesama,” tuturnya.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge