0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kisah Heroik Pejuang Wonogiri

Pertempuran di Kepyar, Usir Belanda dari Wonogiri

Samiharso, bersama veteran pejuang kemerdekaan lainnya saat di Pendopo Rumdin Bupati Wonogiri (timlo.net/tarmuji)

Wonogiri – Meski sudah berusia senja, veteran pejuang kemerdekaan Republik Indonesia ini masih gamblang menceritakan kisah heroik di medan pertempuran saat melawan penjajah. Khususnya melawan penjajah Belanda di Wonogiri.

Salah satunya adalah Samiharso, veteran perang kemerdekaan yang tinggal di Lingkungan Jatirejo RT 2/RW 8 Kelurahan Wonoboyo, Kecamatan Wonogiri. Veteran berusia 90 tahun ini mengisahkan pertempuran paling sengit di daerah Kepyar, Kecamatan Ngadirojo, pada 9 Maret 1949 atau setelah Agresi Militer Belanda II.

Waktu itu, Belanda telah menguasai Ibukota Indonesia yang berada di Yogjakarta. Pasukan penjajah terus melakukan invasi ke daerah-daerah hingga memasuki wilayah Wonogiri.

“Waktu itu saya ingat betul, pas saya pulang menengok rumah, kok Belanda sudah masuk Wonogiri. Dalam batin ini ada perasaan geram yang berkecamuk,” tutur pejuang yang tergabung dalam Pasukan Ronggolawe II, Divisi 5 Resimen 28 Batalyon 3 Cepu, Minggu (8/10).

Dirinya lantas berpikir mencari cara memukul pasukan Belanda yang merangsek masuk wilayah Wonogiri. Kemudian dia mengumpulkan tentara pelajar dan pejuang gerilya dari warga setempat.  Setiap malam, tugasnya berpatroli dan memasang ranjau sepanjang jalan Ngadirojo-Sidoharjo. Dia juga ditugasi membentuk Pemerintahan Militer Kecamatan (PMKt) Ngadirojo Subsektor Selatan. Tugas pasukan itu adalah menghadang pergerakan pasukan Belanda di Wonogiri.

Pada 5 Maret 1949, selaku komandan Sub-PMKt Ngadirojo, ia menerima pasukan Bersenjata Mobil. Pasukan itu kemudian digunakan untuk mencegat konvoi Belanda. Pada 9 Maret 1949 sekitar pukul 10.00 WIB, konvoi Belanda berusaha menerobos jembatan Randusari di jalan Ngadirojo-Sidoharjo. Terjadi kontak senjata. Sebuah tank kecil, jeep, dan truk milik Belanda meledak.

“Pertempuran itu mengakibatkan dua pejuang gugur. Satu dari gerilyawan dan satu lagi dari tentara pelajar. Tapi korban dipihak Belanda jauh lebih banyak dan enam rumah warga terbakar,” kata mantan tentara PETA ini.

Gencatan senjata akhirnya disepakati pada 27 Agustus 1949. Pasukan Belanda tidak boleh mendekati markas TNI pada jarak satu kilometer. Pos TNI yang semula berada di daerah Pucuk Gemawang kemudian dipindah ke dekat balai Desa Kerjo Lor, Ngadirojo.

“Kemudian ada kesepakatan antara TNI dengan Belanda. Pihak pejuang dipimpin oleh Mayor Slamet Riyadi dan pihak Belanda dipimpin oleh Mayor Leo Van Leuwen. Pasukan Belanda harus ditarik menjauh keluar dan menjauh dari Wonogiri,” tandasnya.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge