0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kisah Jackie Chan Saat Remaja Kalahkan 7 Orang

Jackie Chan. (Dok: Timlo.net/Global Post.)

Timlo.net—Jackie Chan dikenal sebagai bintang laga yang sudah membintangi ratusan film aksi. Selain keterampilan bela dirinya, dia juga dikenal suka melakukan sendiri adegan-adegan berbahaya. Walaupun menyukai bela diri, Jackie mengaku dia tidak menyukai kekerasan.

Dalam wawancara dengan George Stroumboulopoulos dalam acara “George Stroumboulopoulos Tonight” beberapa tahun lalu Jackie mengungkapkan alasannya tidak menyukai kekerasan. Sejak kecil, dia tinggal di sekolah asrama di Hong Kong, jauh dari orang tuanya di Australia. Di sekolah itu, Jackie belajar ilmu bela diri dan akrobat. Saat remaja dia bersama dengan sahabatnya menjadi pemain pengganti. Karena industri film terutama film-film aksi saat itu sedang lesu, Jackie menganggur. Maka dia pun kembali ke Australia untuk tinggal bersama orang tua.

Suatu ketika Jackie berjalan-jalan bersama dua saudaranya di kawasan salah satu Hilton Hotel di Australia. Waktu itu ada tujuh orang anggota geng motor sedang nongkrong di jalan. Jackie menunjuk salah satu sepeda motor yang dipakai anggota geng itu. “Suatu hari, aku akan punya sepeda seperti itu,” ujarnya.

Sayangnya perkataan itu memicu keributan. Entah kenapa para anggota geng motor itu marah dan mulai memaki-maki Jackie. “Satu tendangan, dan ketujuh motor itu jatuh,” ujar Jackie.

Saat ketujuh anggota geng motor itu berdiri, dua saudara Jackie sudah terlebih dulu maju dan berkelahi. “Kenapa aku berdiri di sini?” tanya Jackie kala itu kebingungan. Segera dia ikut membantu kedua saudaranya berkelahi.

“Boom..boom..saya tidak tahu berapa lama, tapi mereka semuanya jatuh. Kami bertiga belajar bela diri,” ujar Jackie.
Begitu geng motor itu berjatuhan, Jackie dan kedua saudaranya lari. Saat berlari, Jackie merasakan ada yang aneh dengan sepatunya. Dia melihat ke bawah dan sepatunya dipenuhi darah. Salah satu punggung tangannya juga berdarah dan bengkak. Bahkan ada bagian yang terkelupas dan berwarna keputihan.

Ketiganya kembali ke tempat di mana mereka berkelahi. Tempat itu dipenuhi dengan kerumunan orang, bahkan ada ambulan. Jackie dan kedua saudaranya panik. “Saya gemetaran. Apakah aku barusan membunuh seseorang?” kata Jackie.

Waktu pulang ke rumah, dia merasa gelisah akan bayangan jika dia bisa saja membunuh seseorang dalam perkelahian itu. Dia mengecek siaran berita di televisi pada malam harinya dan keesokan harinya membaca koran untuk mengetahui jika ada berita soal perkelahian itu. Dua hari kemudian, tangannya mulai mengeluarkan bau busuk dan cairan putih kekuningan. Dia mencoba mengeluarkan warna putih dari punggung tangannya. Ternyata ada gigi yang tertancap di punggung tangannya. Hingga sekarang, dia tidak tahu bagaimana nasib ketujuh orang itu. “Itu bukanlah pengalaman yang baik. Saya gemetaran. Benar-benar ketakutan,” ujarnya.

Sekalipun menang, pengalaman itu mengubah hidup Jackie. Dia memutuskan sekalipun tampil dalam film aksi, dia akan mengurangi adegan yang menunjukkan kekerasan, kekejaman dan darah. “Saya berada dalam dilema. Saya suka aksi tapi saya benci kekerasan. Selama bertahun-tahun, saya mencoba memasukkan unsur komedi, komedi alami, komedi situasional dengan semua aksi. Saya harap penonton melihat adegan aksi..papapam..seperti tarian..hahaha..lupa..lupa semua kekerasan,” terangnya.

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge