0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Akses Air dan Sanitasi Perkotaan di Indonesia Terendah se-Asean

Regional Manager USAID IUWASH PLUS, Jefry Budiman memberi keterangan kepada wartawan, di Hotel Royal Heritage, Selasa (3/10) (dok.timlo.net/ichsan rosyid)

Solo — Akses penduduk perkotaan di Indonesia terhadap air bersih dan sanitasi merupakan yang terendah se-Asean. Akses masyarakat perkotaan di Indoensia terhadap jaringan air perpipaan berada di kisaran 33 persen, sanitasi layak 72 persen. Tak hanya itu, jumlah masyarakat yang masih melakukan Buang Air Besar Sembarangan (BABS) pun cukup tinggi di angka 13 persen.

“Dibanding negaran lain, angka kita terendah,” kata Regional Manager United States Agency for International Development (USAID) – Indonesia Urban Water, Sanitation and Hygiene – Penyehatan Lingkungan Untuk Semua (IUWASH-PLUS), Jerfy Budiman usai diskusi dengan media di Hotel Heritage, Selasa (3/10).

Merujuk pada data yang dirilis Joint Monitoring Programme (JMP) tahun 2015, Indonesia termasuk yang terendah. Dalam hal akses warga perkotaan kepada air perpipaan (PDAM), Indonesia menempati posisi delapan dengan cakupan 33 persen. Lebih tinggi dari Myanmar yang cakupannya hanya 19 persen.

Namun dalam hal sanitasi layak, Indonesia menduduki posisi terendah. Hanya 72 persen warga perkotaanya yang memiliki akses kepada sanitasi yang layak. Lebih rendah dari Filipina dan Myanmar dengan cakupan masing-masing 78 dan 84 persen. Sejalan dengan data ini, masyarakat perkotaan di Indonesia yang BABS pun masih cukup tinggi di angka 13 persen. Sementara negara-negara lain umumnya sudah di angka 0 persen dengan pengecualian Filipina (3 persen), Myanmar (1 persen) dan Laos (1 persen).

“Masalah ini menjadi perhatian serius pemerintah. Karena dampaknya kemana-mana,” jelasnya.

Tak hanya Pemerintah, masalah air bersih dan sanitasi sejak awal 2000-an sudah menjadi sorotan global. Salah satunya USAID dengan programnya IUWASH. IUWASH sendiri tahap pertama yang berlangsung pada periode 2010-2015 berhasil memberi akses air minum kepada satu juta penduduk perkotaan. Separuhnya merupakan masyarakat golongan B40 atau masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

“Sekarang kita sudah masuk periode kedua. Dari Pemerintah minta ada tambahan progam penyehatan lingkungan. Makanya sekarang jadi IUWASH PLUS,” katanya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge