0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Mencicipi Dendeng Jantung Pisang Wonogiri

Kuliner unik karya Sari Noviatsih memanfaatkan jantung pisang sebagai bahan bakunya (dok.timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Kuliner satu ini patut anda cicipi. Karena mungkin hanya ada di Wonogiri saja. Selain cita rasanya yang gurih, camilan ini juga terbilang jarang dijual di pasar-pasar tradisional.

Ya, dendeng jantung pisang. Industri rumahan ini merupakan usaha keluarga yang digeluti  pasangan Sari Noviatsih dan Sugiyanto warga Dusun Batu Tengah RT 1/RW10 Desa Baturetno, Kecamatan Baturetno, Wonogiri. Di tangannya, jantung pisang yang selama ini dianggap takberharga dibiarkan tergeletak di kebun dan di pekarangan rumah, kini disulap menjadi rupiah. Bermodal pengalaman secara otodidak, melalui tayangan televisi, ia pun memberanikan diri berbisnis camilan unik ini.

“Sempat mencoba beberapa kali tapi gagal, kemudian saya terus belajar. Akhirnya ketika keluarga besar kami mengatakan kalau rasanya sudah pas dan mantap, ya kemudian produk ini kami pasarkan,” beber  Sari Noviatsih saat dikonfirmasi Timlo.net, Minggu (1/10).

Ibu tiga anak ini menyebut, usahanya baru ditekuni setahun lalu. Namun ternyata, produk karyanya sudah mendapat hati di kalangan masyarakat. Awalnya, ia hanya memproduksi dendeng jantung pisang saja dengan dua rasa, yakni pedas dan original. Kemudian muncullah ide kreatifnya dalam menciptakan kuliner sehat lain-lainnya dengan label yang sama yaitu “Mamuma”.

Ada sejumlah produk hasil karya istri dari Sugiyanto ini, seperti aneka abon, aneka manisan dan aneka sambal dan belasan kripik unik dan aneka stik. Meski begitu,yang menjadi andalannya masih tetap dendeng jantung pisang.

“Untuk bahan bakunya kami sudah punya pengepul, setiap hari ada warga Baturetno yang menyuplainya. Tapi untuk dendeng jantung pisang berkualitas bagus,” katanya.

Meski baru seumur jagung, usaha yang ia lakoni itu mampu menembus pasar. Buktinya, setiap harinya ada saja orderan yang masuk melalui pesan di ponselnya.

Perempuan empat puluh tahun itu  juga mengaku, selama ini barang-barang dagangannya dipasarkan dengan sistem online. Sari memanfaatkan jejaring media sosial (WA, BBM, Facebook, tweeter, Instagram) untuk pemasarannya. Sedang pengiriman barang melalui titipan kilat dengan pembayaran tranfer rekening bank.

“Hampir kota di Pulau Jawa, bahkan sudah merambah Pulau Sumatera dan Bali. Tapi paling banyak pesanannya itu datang dari Jabodetabek, Mas,” jelasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge