0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Suyitno Ubah Tanaman Indigofera Jadi Pewarna Alam

Peneliti UNS, Prof Dr Techn Suyitno (dok.timlo.net/tyo eka)

Solo — Peneliti Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof Dr Techn Suyitno mengubah tanaman Indigofera menjadi pewarna alam, Pewarna alam tersebut resmi dilaunching Rektor UNS Prof Dr Ravik Karsidi MS dengan nama UNS Ecody.

“Tanaman Indigofera yang dikenal sebagai tumbuh liar, saya teliti sejak tahun 2009 lalu. Tanaman itulah sebagai bahan bakunya,” ungkap Suyitno kepada wartawan, seusai launching Pewarna Alam UNS Ecody, di UNS Inn, Kampus UNS, Solo, Kamis (28/9).

Suyitno menceritakan, konsumsi tekstil dan produk tekstil di Indonesia menempati urutan ke-3 di dunia selain India dan China. Industri tekstil dan produk tekstil merupakan penyumbang terbesar devisa non migas Indonesia pada tahun 2015 yang setara dengan USD 14 miliar. Sementara itu, konsumsi global pewarna mencapai 700.000 ton atau setara dengan USD 4,4 miliar. Di Indonesia, 95 % pewarna yang digunakan merupakan pewarna kimia atau sintetis dari produk impor.

“Bertitik tolak dari salah satu latar belakang tersebut dan tanaman yang saya teliti itu, saya memberdayaan para petani di daerah tembat tinggal saya yaitu di Sukoharjo untuk menanam tanaman tersebut,” ungkapnya.

Suyitno mengaku, pemberdayaan petani untuk menanam Indigofera dengan memanfaatkan lahan seluas tiga hektar. Sengaja memanfaatkan lahan yang tidak bisa ditanami padi. Karena tanaman tersebut membutuhkan tidak membutuhkan terlalu banyak air seperti halnya padi.

Menurut Suyitno, tanaman indigofera yang ditanam pada lahan tiga hektar tersebut, bisa menghasilkan sekitar satu kwintal bahan baku pewarna alam. Pewarna alam yang dikembangkan UNS melalui penelitiannya terdiri atas warna biru, merah, kuning dan hijau.

“Warna tersebut diperoleh dari tanaman indigofera, pohon soga tinggi, kayu secang dan kayu tegeran,” ungkapnya.

Guru Besar bidang Konservasi Energi tersebut mengemukakan, produk pewarna alam yang dikembangkannya memilikikeunggulan di antaranya kualitas ketahanan warna mencapai skor 4 hingga 5 dari maksimal skor 5, efisiensi proses pencelupan hanya 5-6 kali dibanding pewarna alam lain yang memerlukan 26 kali pencelupan.

Produk pewarna itu sekarang ini, menurut Suyitno, telah dimanfaatkan oleh perajin batik di eks Karesidenan Surakarta. Pewarna ini memiliki warna yang lebih cerah dibanding pewarna serupa.  Bahkan aplikasinya juga sangat mudah.

“Pewarna alam ini aman untuk kulit dan sisa pewarnaan tidak menjadi limbah sisa produksi. Limbah bisa dimanfaatkan sebagai biogas dengan tambahan kotoran sapi,” ungkapnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge