0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kasus Suap Penerbitan Calling Visa, Terdakwa Akui Terima Uang

(merdeka.com)

Timlo.net – Mantan atase Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia, Dwi Widodo tersandung kasus suap penerbitan calling visa terhadap sejumlah perusahaan. Dwi Widodo mengakui dirinya menerima uang dari sejumlah perusahaan untuk menerbitkan calling visa.

“Betul ini ada transfer masuk ke rekening Anda?” tanya jaksa penuntut umum KPK, Ahmad Burhanudin kepada Dwi saat persidangan di Pengadilan Negeri Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (20/9).

“Betul. Saya enggak minta, mereka langsung kirim,” ujar Dwi menjawab pertanyaan jaksa.

Dia menjelaskan, uang tersebut dikirim oleh perusahaan rekanan setelah calling visa diterbitkan.

Mantan penyidik Ditjen Imigrasi sekaligus Atase Imigrasi KBRI di Kuala Lumpur Tahun 2013-2016, Dwi Widodo, didakwa menerima suap Rp 524.350.000 dan RM 63.500 terkait pengurusan calling visa dan pembuatan paspor dengan metode reach out. Dwi juga mendapat voucher hotel senilai Rp 10.807.102.

Terhadap pengurusan calling visa, ada delapan perusahaan yang memberi suap kepada Dwi terkait pengurusan calling visa. Kedelapan perusahaan tersebut adalah; PT Anas Piliang Jaya, PT Semangat Jaya Baru, PT Trisula Mitra Sejahtera, PT Sandugu International, PT Rasulindo, PT Atrinco Mulia Sejati, PT Afindo Prima Utama, dan PT Alif Asia Africa.

Selain pengurusan calling visa. Dwi juga meminta sejumlah fee terhadap perusahaan yang meminta bantuannya dalam pengurusan paspor dengan menggunakan metode reach out.

Dalam pengurusan itu, Dwi memasang target minimal 50 sampai 250 pengaju paspor tiap harinya. Tiap paspor dikenakan harga RM 250.

Akibat perbuatannya, Dwi didakwa dengan Pasal 11 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 Jo Pasal 65 Ayat 1 KUHP.

[dan]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge