0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kasus Saracen, Sri Rahayu Segera Disidang

Anggota jaringan Saracen yang diamankan (merdeka.com)

Timlo.net – Tersangka ujaran kebencian dan konten SARA anggota Saracen, Sri Rahayu Ningsih, segera disidangkan. Berkas perkaranya sudah lengkap dan dinyatakan P21.

“Karena dia (Sri) lebih awal ditangkap, kemudian dari pihak penuntut umum dirasa sudah cukup. Nanti kalau untuk setelah P21 kemungkinan akan kami segera limpahkan ke kejaksaan untuk tahap dua,” kata Kanit V Subdit III Dittipid Siber Mabes Polri, AKBP Purnomo di Jakarta Selatan, Kamis (13/9).

Untuk lokasi sidang, Purnomo belum dapat memastikan.

“Untuk sesegera mungkin disidangkan apakah akan dilimpahkan ke TKP dia ditangkap atau di mana dia ditahan,” ujarnya.

Dia pun menjelaskan baru Sri yang sudah naik ke tahap P21. Untuk tersangka lainnya, polisi masih melengkapi berkas-berkas yang sekiranya dianggap sudah lengkap oleh kejaksaan.

“Infonya dari penyidik seperti itu (baru Sri yang P21). Untuk yang lainnya masih proses. Jasriadi, Tonong, Asma Dewi, Harsono,” ucapnya.

Dia pun menyebut untuk kasus penebar ujaran kebencian yang diduga terkait atau terlibat dengan Saracen yaitu Asma Dewi.

“Yang terakhir ditangkap itu ya si Asma Dewi,” tandasnya.

Diketahui, Satgas Patroli Siber telah melakukan penangkapan di Ds Cipendawa, Cianjur, terhadap pemilik akun FacebookSri Rahayu Ningsih alias Ny Sasmita (32). Sri Rahayu yang beralamat Karta Sari RT 03/RW 01 Tulang Bawang Udik, Lampung itu diduga sebagai pelaku ujaran kebencian dan SARA melalui Medsos.

“Barang Bukti disita 4 buah HP berbagai merek, 1 buah flashdisk , 3 buah sim card, 1 buah buku berisi email dan password tsk, 1 buah jaket, 2 kemeja dan 1 buah kaos sesuai foto di FB,” kata Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen Fadil Imran.

Menurut Fadil, modus yang dilakukan Sri Rahayu adalah dengan mendistribusikan puluhan foto-foto dan tulisan melakui akun FB miliknya dengan berbagai konten. Seperti SARA terhadap suku Sulawesi dan ras China, penghinaan terhadap Presiden, penghinaan terhadap berbagai partai, Ormas dan kelompok, konten hatespeech dan hoax lainnya.

[eko]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge