0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Di Kampung Ini, Warga Rayakan Idul Adha 14 Semptember

Warga Bonokeling di Desa Pekuncen Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas (merdeka.com)

Timlo.net – Masyarakat adat Bonokeling di Desa Pekuncen Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, baru merayakan Idul Adha pada Kamis (14/9) mendatang. Perbedaan waktu dua pekan itu, dikarenakan masyarakat adat Bonokeling berpegangan pada perhitungan waktu sendiri yakni kalender Alif Rebo Wage (Aboge).

Tahun ini dalam penanggalan Aboge, merupakan tahun Za. Idul Adha yang mereka sebut Bada Perlon jatuh pada Kamis Pahing tanggal 21 Jawa Aboge atau dalam kalender masehi bertepatan 14 September.

Juru Bicara Masyarakat Adat Bonokeling, Sumitro mengatakan penghitungan jatuhnya Idul Adha di Bonokeling memakai hari bukan tanggal. Sebagaimana umumnya perayaan idul adha, anak putu (trah-red) Bonokeling menggelar ritual pemotongan hewan kurban.

Mereka nantinya juga akan melakukan pembagian daging hewan kurban ke masyarakat di wilayah desa Pekuncen.

Di perayaan Idul Adha nantinya, Bonokeling punya tradisi bersih kubur atau berziarah ke makam Kyai Gunung, yang terletak di area makam Panembahan Bonokeling, Pekuncen.

Selain itu ada pula rangkaian bersih kubur dan bekten (kebaktian) ke panembahan Kyai Bonokeling yang dilakukan pada Jumat Kliwon.

“Di area makam akan dilaksanakan muji atau berdoa. Tiap tahun Idul Adha atau Perlon memang jatuh di hari yang berbeda. Tahun ini yang merupakan tahun Za jatuh di hari Kamis Pahing,” kata Sumitro, Selasa (5/9).

Sumitro menegaskan meski masyarakat adat Bonokeling kerap menggelar perayaan hari raya baik idul fitri maupun idul adha berbeda waktu dengan umat muslim, ia berharap perbedaan tak perlu dipermasalahkan. Semua kelompok masyarakat ia katakan harus mengedepan keguyuban, rukun dan kedamian dalam kebhinekaan.

Masyarakat adat Bonokeling sendiri, dijelaskan dalam buku Islam Kejawen, Sistem Keyakinan dan ritual anak cucuk Ki Bonokeling (2008) yang ditulis Suwito Ns dkk merupakan komunitas Islam Kejawen.

Perkembangan komunitas ini bermula dari tokoh spiritual bernama Ki Bonokeling yang membuka hutan dan mengembangkan pertanian di desa Pekuncen yang berarti suci. Anak cucu ki Bonokeling lantas menyebar ke berbagai wilayah baik di Cilacap maupun Banyumas.

[gil]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge