0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Petugas BKSDA Evakuasi Bekantan yang Tersesat di Pemukiman

Bekantan dievakuasi BKSDA Kaltim (merdeka.com)

Timlo.net — Seekor satwa khas Kalimantan, Bekantan (Nasalis Larvatus) atau monyet berhidung panjang yang tersesat selama tiga hari di sekitar permukiman warga Loa Janan Ilir, Samarinda, Kalimantan Timur, Jumat sore akhirnya diamankan petugas BKSDA Kalimantan Timur. Keberadaan satwa primata langka di sekitar permukiman warga itu, terlihat warga sejak Rabu (30/8) lalu.

Mereka yang mengetahui satwa itu dilindungi negara, memberitahukannya kepada relawan kebencanaan. Pemantauan dilakukan sejak Kamis (31/8) kemarin.

Relawan bersama dengan petugas BKSDA Kalimantan Timur, mendatangi lokasi temuan Bekantan, lengkap dengan senjata pembius. Skenario penangkapan pun disusun, agar tidak mencederai Bekantan. Senjata bius sempat ditembakkan ke Bekantan yang berada di atap rumah warga. Namun pembius yang menempel dicabut sendiri oleh sang Bekantan.

Skenario lain, relawan, warga dan petugas BKSDA menggunakan jerat jaring. Bekantan pun terus terdesak, ke plafon kerangka atap rumah warga dan akhirnya ditangkap. Diperlukan 3-4 orang warga, untuk mengamankan Bekantan hingga masuk ke dalam kandang besi khusus satwa milik BKSDA sekira pukul 17.00 Wita.

“Paska pembiusan ini kemungkinan Bekantan stres. Diperlukan waktu 1-2 hari untuk pemulihannya. Bekantan ini diperkirakan usia 5 tahun, kelamin jantan,” kata Petugas Pengendali Ekosistem dari BKSDA Kaltim, Yoyok Sugianto.

Kecepatan proses evakuasi Bekantan sendiri ternyata di luar dugaan BKSDA.

“Kita briefing, meski sampai malam, kita harus amankan Bekantan. Ternyata sebelum Maghrib, berhasil kita evakuasi,” ujar Yoyok.

Diterangkan Yoyok, Bekantan ini umumnya hidup di hutan Mangrove. BKSDA sendiri, punya area konservasi pemantauan populasi di dua cagar alam yakni Cagar Alam Sedulang di Muara Kaman dan di Teluk Adang.

“Melihat kawasan di sekitar ini, jadi yang kita evakuasi hari ini, kami pastikan itu sebelumnya peliharaan warga. Ada tiga tembakan bius. Dua tembakan sebelumnya dosis rendah, dan tembakan ketiga kita tambah sedikit dosis biusnya. Intinya agar bius tidak berdampak besar terhadap Bekantan,” demikian Yoyok.

[eko]

Sumber : merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge