0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Makan Hasil Bumi Musiman Bantu Kesehatan Pencernaan

Makanan sehat. (Dok: Timlo.net/ Google Images)

Timlo.net—Sebuah penelitian baru menyatakan jika makan hasil bumi yang dipanen sesuai musim bisa meningkatkan kesehatan pencernaan. Untuk penelitian ini, para ilmuwan meneliti sekelompok suku di Afrika. Mereka menemukan bakteri perut anggota suku itu 30 persen lebih beragam dari orang Barat.

Bakteri perut yang beragam diketahui meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Tim peneliti internasional itu dipimpin oleh para ilmuwan dari the Stanford University School of Medicine. Mereka meneliti suku Hadza yang tinggal di the Savannah, Afrika.

Makanan mereka bervariasi tergantung dari musim karena mereka tidak bisa menyimpan makanan. Dengan kata lain, suku itu hanya makan hasil bumi yang dipanen pada musimnya. Para peneliti menemukan anggota suku itu tidak menderita penyakit pencernaan yang mewabah di Barat seperti penyakit Crohn’s, kanker usus, penyakit radang usus dan kolitis ulserativa.

Makanan olahan pabrik, antibiotik, operasi cesar dan perubahan gaya hidup dipercaya mengurangi keberagaman bakteri perut, tulis para peneliti dilansir dari Daily Mail. Tim itu mengumpulkan sampel tinja dari 188 anggota suku Hadza berusia 8 hingga 70 tahun selama setahun. Sampel itu dianalisa untuk mengungkap jenis makanan dan komposisi flora mikroba perut.

Hasil sampel dibandingkan dengan sampel dari warga Italia yang makan makanan khas Barat. Hasilnya sistem mikroba perut pada suku Hazda lebih beragam. Suku itu mengkonsumsi daging, buah berry, baobab (sejenis buah), ubi-ubian dan madu.

Selama musim kering, daging, baobab dan ubi-ubian dikonsumsi lebih banyak. Sementara buah berrry, ubi-ubian, madu dan baobab dikonsumsi lebih banyak saat musim hujan.

Tim itu menemukan bakteri perut suku Hadza bervariasi setiap musimnya sesuai dengan makanan yang tersedia di alam. “Mikrobiota kita sendiri bisa berubah secara signifikan dari hari ke hari atau bahkan dalam hitungan jam, untuk merespon apa yang kita makan,” ujar peneliti Justin Sonnenburg, associate professor mikrobiologi dan immunologi.

Dia berkata Hadza adalah salah satu suku yang tersisa di dunia yang berburu dan meramu secara tradisional. “Populasi pemburu-peramu adalah yang paling dekat dengan mesin waktu yang kita, dunia industri modern bisa temui untuk belajar cara-cara yang digunakan nenek moyang kita,” ujar Justin.

Dia berkata penting bagi kita mempelajari suku itu karena gaya hidup tradisional mereka bisa segera punah. “Suku Hadza yang terdiri dari 100-200 orang itu tetap menjalani rutinitas ini yang mungkin akan hilang dalam satu atau dua dekade, mungkin lebih cepat. Beberapa orang mulai menggunakan ponsel sekarang,” ujarnya.

“Kami ingin mengambil keuntungan dari jendela yang dengan cepat tertutup untuk menjelajahi mikrobiota kita yang menghilang,” tambahnya. Penelitian itu diterbitkan dalam jurnal “Science”.

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge