0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Penyedian Makanan Jemaah Haji dapat Sorotan Tajam

ilustrasi (merdeka.com)

Timlo.net — Tim pengawas haji tahap I menemukan pelanggaran prosedur pelaksanaan haji untuk jemaah asal Indonesia. Salah satu pelanggaran yang ditemukan tim pengawas tersebut adanya 3.334 kotak makanan basi yang sempat belum dibagikan untuk para jemaah di Madinah.

“Selain persoalan makanan basi, manajemen distribusi makanan ke jemaah haji banyak dikeluhkan karena bertepatan dengan waktu Ibadah Haji ke Masjid Nabawi,” kata ketua tim pengawas haji sekaligus Wakil Ketua DPR, Fadli Zon, di Kompleks DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (24/8).

Fadli menyampaikan, jika pihaknya sudah mengunjungi perusahaan katering yang menyediakan konsumsi untuk para jemaah haji saat melakukan pemantauan langsung ke Makkah, Arab Saudi. Ia menjelaskan, jika terjadi kesalahan dalam mekanisme pengelolaan makanan yang menyebabkan nasi menjadi basi.

Menurut Fadli, kesalahan itu terjadi karena perusahaan katering dianggap belum profesional dan belum memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang aman dan higienis. Selain itu, tim pengawas juga menemukan manajemen petugas haji yang bertugas mendampingi para jemaah yang kurang bagus karena minimnya personel.

“Total kerugian jemaah haji di Madinah yaitu uang senilai Rp 15 Juta dan 14.300 riyal, dan handphone,” kata Fadli.

Dengan apa yang ditemukan tim pengawasan haji sudah dikomunikasikan kepada Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, saat pertemuan di kantor daerah kerja penyelenggara ibadah haji di Makkah.

“Ya diharapkan akan ada tindak lanjut yang dapat ditingkatkan, mengingat penyelenggaraan haji akan memasuki puncak haji, dan setelah itu pemulangan jemaah haji ke Indonesia,” kata Fadli.

Kemudian temuan ini akan ditindaklanjuti oleh DPR RI dalam pelaksanaan penyelenggaraan ibadah haji tahap II, pada 24 Agustus hingga 7 September mendatang.

Fadli menambahkan, pelayanan pemondokan untuk para jemaah di Madinah juga jadi masalah yang ditemukan tim pengawas. Menurut dia, tempat pemondokan itu sudah tak layak pakai.

“Terdapat pemondokan yang tidak layak dijadikan tempat bagi jamaah haji, dikarenakan fasilitas hotel pemondokan yang tidak mendukung seperti kondisi pemondokan yang kurang terawat, lift yang kecil, lift yang rusak dan jumlah lift yang hanya dua,” kata Fadli.

Lanjut Fadli, jika telah ditemukan pemondokan sejauh 1.200 meter dan dibuat wilayah Markaziah yaitu 18 kriteria atau sekitar 8.000 jemaah. Hal itu tentu saja tidak sesuai dengan rencana penyelenggaraan yang sudah ditetapkan yaitu semua pemondokan akan ditempatkan di daerah Markaziah.

Dengan adanya seperti itu, dapat menganggu kenyamanan dan kecepatan pergerakan jemaah haji naik dan turun.

“Terdapat juga rasio kamar yang dihuni bervariasi mulai dari 4,5,6 bahkan 7 jamaah. Untuk satu kamar. Yang menyebabkan tak nyaman bagi para jamaah,” kata Fadli.

[gil]

Sumber : merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge