0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Memilukan, Seorang Kakek Rawat Tiga Nenek dan Pemuda Sakit Jiwa

Mbah Mangun sedang merawat istri dan saudaranya (timlo.net/agung widodo)

Sragen – Beratnya beban hidup sangat dirasakan oleh Mangun Dikromo (76), warga Dukuh Bulak Manyar RT 22, Desa Ngargosari, Kecamatan Sumberlawang, Sragen. Di usianya yang sudah senja, dia harus merawat istri dan kedua saudara perempuannya yang sakit serta cucu laki-lakinya yang juga sakit jiwa.

Mereka tinggal dalam satu rumah kecil terbuat dari papan dan bambu dengan kondisi ekonomi yang serba kekurangan. Parahnya, keluarga miskin tersebut belum pernah mendapat bantuan apa pun dari pemerintah.

“Mau berobat nggak punya uang. Kalau nanti dibawa ke rumah sakit malah repot, nanti yang di rumah siapa yang ngurusi?” kata mbah Mangun, Senin (21/8).

Sudah cukup lama mbah Mangun merawat istrinya Wagiyem (75), kakaknya Sutiyem (90) dan adiknya Sarmi (70) serta cucunya, Muh Hariyanto (40). Ketiga perempuan tua sudah lama dalam kondisi sakit dan hanya bisa berbaring di tempat tidur. Sedangkan Hariyanto sendiri juga mengalami gangguan jiwa alias stress.

Mbah Mangun mengaku, kendati mempunyai Kartu Indonesia Sehat (KIS), namun tidak mampu untuk membawa istri dan kedua saudara iparnya tersebut berobat ke rumah sakit. Pasalnya, kalau mereka semua dirawat di rumah sakit mbah Mangun bakalan kuwalahan mengurusi biaya hidupnya setiap harinya.

Selama ini  mbah Mangun hanya bekerja serabutan mengumpulkan kayu bakar untuk dijual. Untuk sekadar urusan makan sehari-hari saja kadang dibantu oleh tetangganya.

Sementara anak-anak mereka sendiri ada yang tinggal di Semarang dan Jakarta. Bahkan salah satu anak dari Sarmi yang tinggal di Jakarta juga mengalami sakit, kakinya diamputasi. Anak dari Mbah Mangun sendiri sudah lama tidak pulang dan tak bersedia mengurusi orang tuanya. Dia berharap pemerintah mau memperhatikan nasib dan memberi bantuan kepada keluarganya.

Mbah Mangun sedang merawat istri dan saudaranya (timlo.net/agung widodo)

Ketua RT 22 Dukuh Bulak Manyar, Cipto Wiyono menyampaikan, sebenarnya Mbah Mangun Dikromo, Wagiyem, Sutiyem dan Sarmi masing-masing mempunyai anak. Namun entah mengapa anak-anak mereka seolah tidak bersedia mengurusi orang tuanya.

Bahkan ada salah satu anak mbah Mangun-Wagiyem yang tega mengusir orang tuanya. Padahal mbah Mangun sudah rela menjual rumah miliknya untuk diberikan kepada anaknya yang tinggal di Semarang.

“Rumah punya mbah Wagiyem dijual, hasilnya semua diberikan pada anaknya di Semarang. Tapi pada akhirnya anaknya itu tidak mau diikuti kedua orang tuanya. Akhirnya mbah Mangun dan Wagiyem pulang dan buat rumah kecil di sini, tinggal bersama mbah Satiyem dan Sarmi serta cucunya yang sakit jiwa itu,” papar Cipto Wiyono.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge