0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Gigi Sehat Pendukung Tumbuh Kembang Anak

(foto: Tyo Eka)

Solo – Rumah Sakit (RS) PKU Muhammadiyah Surakarta menggelar talkshow bertemakan Gigi Sehat Pendukung Tumbuh Kembang Anak, di rumah sakit setempat, Solo, Sabtu (19/8). Talkshow kali ini menghadirkan narasumber dokter gigi RS PKU Muhammadiyah Surakarta drg. Laksmi Dewi N, Sp. KGA, diikuti sekitar 200 ibu-ibu.

“Merawat gigi susu sejak dini akan memberikan peluang bagi anak untuk memiliki mulut sehat dan gigi yang kuat sampai dewasa,” ujar drg. Laksmi saat menjelaskan kepada peserta.

Pada kesempatan itu, Laksmi mengemukakan, bagi usia balita, gigi susu sangat penting, bukan hanya karena tampak bagus, tetapi menyangkut proses pencernakan makanan, fungsi bicara dan fungsi estetika atau keindahan wajah.

Pada usia balita, menurut Laksmi, sering kejadian karies, yakni penyakit infeksi pada gigi yang merusak struktur gigi. Salah satunya menyebabkan gigi berlubang. Penyebabnya, diantara factor bakteri, pola makan dan sebagainya.

Laksmi mengemukakan faktor resiko bakteri merupakan kombinasi dari banyaknya plak dan aktivitas bakteri. Banyaknya plak sangat terkait dengan pemeliharaan sehari-hari seperti membersihkan gigi atau menggosok gigi.

“Anak-anak di bawah umur 10 tahun belum bisa mandiri dalam memelihara kebersihan rongga mulut,” jelasnya.

Selain itu, perhatian dari ibu atau pengasuh yang kurang atau kurang tersediakan sarana seperti sikat gigi dengan ukuran yang sesuai dan pasta gigi, menyebabkan kurangnya derajat kebersihan rongga mulut.

“Keadaan ini akan memudahkan pertumbuhan bakteri,” jelasnya.

Sedang faktor resiko pola makan, menurut dokter gigi RS PKU Muhammadiyah Surakarta itu, merupakan kombinasi dari komponen diet dan frekwensi makan. Pola makan anak tidak banyak variasinya tetapi mempunyai kandungan gula yang tinggi. Kebanyakan mengkonsumsi masakan bertepung, gula sederhana, atau makanan yang diproses dengan kombinasi gula dan tepung.

“Hal ini akan mempertahankan lingkungan mulut yang asam sehingga demineralisasi lebih besar dibandingkan remineralisasi,” ungkapnya.

Tindakan pencegahannya, menurut drg. Laksmi, menghentikan kebiasaan buruk seperti ngemut makanan, minum susu atau minuman manis lewat botol sepanjang hari atau malam, menggigit pensil atau mainan, menghisap ibu jari, bertopang dagu, dan lain-lain.

“Tapi tindakan pencegahan yang paling utama adalah pengendelaian pola makan, meningkatkan kebersihan rongga mulut dan ikuti Program Fluor,” jelasnya.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge