0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Belum Sempat Bebas, Aman Abdurrahman Kembali Berurusan dengan Densus 88

Rilis kasus terorisme (merdeka.com)

Timlo.net – Belum sempat menghirup udara bebas, Pemimpin jaringan Jemaah Ansharut Daulah (JAD) Aman Abudurrahman kembali berurusan dengan polisi. Dia ditangkap Detasemen Khusus (Densus) 88 antiteror Polri. Padahal, dia baru saja mendapatkan remisi hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72, pada Kamis (17/8).

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Setyo mengatakan bahwa Aman ditangkap kembali oleh Densus 88 karena diduga terkait kasus bom Thamrin pada 2016 silam.

“Aman sudah diamankan oleh Densus. Dia (Aman) diduga terkait dalam kasus bom Thamrin. Jadi Aman Abdurahhamn sudah diamankan Densus 88 di Mako Brimob,” kata Setyo di Jakarta, Jumat (18/8).

Namun, untuk status Aman sendiri belum sebagai tersangka. Karena dirinya masih menjalani tahap pemeriksaan terkait kasus bom Thamrin.

“Statusnya masih ditunggu 7 hari, setelah itu akan ada yang ditetapkan dan kita proses lagi. Kemarin kita (Densus) ambil di Nusakambangan,” ujarnya.

Ditangkap kembali karena terkait bom Thamrin, Aman diduga kuat mempunyai peran penting dalam aksi tersebut. Karena dirinya telah memberikan atau mengamalkan ilmu (Amaliyah) kepada pelaku teror bom di Thamrin 2016 silam.

“Pertama dia yang mendorong untuk melakukan amaliyah, kedua nanti kita lihat apa dia terkait langsung untuk mendukung fisik atau yang lain,” jelas dia.

Diketahui, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror membawa Pemimpin jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Aman Abudurrahman dari Lapas Nusakambangan, ke Markas Komando Brimob, Kelapa Dua.

Aman dijemput oleh Densus pada Minggu (13/8), yang semestinya, Aman dijadwalkan bebas dari lapas pada Kamis (17/8), karena mendapatkan remisi hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72, pada Kamis (17/8).

Aman pertama kali ditangkap pasca ledakan bom di rumahnya di kawasan Cimanggis, Depok, pada 21 Maret 2004. Ledakan terjadi saat dirinya sedang latihan merakit bom. Pada 2 Februari 2005, Aman divonis hukuman tujuh tahun penjara selama. Ia dijerat Pasal 9 UU No 15 tahun 2003 jo pasal 55 ayat 1 KUHP tentang kepemilikan bahan-bahan peledak.

Polri menyebut Aman sebagai orang yang memerintahkan pelaku bom Thamrin yang menewaskan delapan orang pada 14 Januari 2016. Aman juga disebut-sebut mempelajari keahlian menggunakan senjata dan merakit bom dari seorang alumni Ambon dan Poso.

[bal]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge