0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Kisah Umar Patek Jadi Pengibar Bendera di Lapas

Umar Patek (merdeka.com)

Timlo.net – Terpidana kasus terorisme Umar Patek merasa bangga menjadi petugas pengibar bendera pada upacara HUT RI, Kamis (17/8) kemarin. Upacara digelar di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas 1 Surabaya, Porong, Sidoarjo

“Saya tidak ditunjuk, tapi mengajukan diri. Alhamdulillah saya bersyukur untuk tetap dipercaya kembali menjadi pembawa bendera. Dan ini sudah keempat kalinya bagi saya menjadi pengibar bendera. Pertama saat Hari Kebangkitan Nasional tahun 2015, lalu tiga kali berturut-turut di HUT RI 2015, 2016 dan sekarang,” kata Umar Patek dalam keterangan tertulis, Jumat (18/8).

Dia mengaku berlatih sekitar satu minggu dan mendapatkan pendampingan dari seorang mantan prajurit Intai Amfibi (Taifib) Marinir TNI-AL, Suud Rusli yang kini menjadi terpidana mati dalam kasus pembunuhan bos PT Asaba yaitu, Boedyharto Angsono dan pengawalnya, Edy Siyep, pada 2003.

“Selama ini mas Suud yang melatih. Persiapannya cuma seminggu sebelum upacara perayaan kemerdekaan ini,” ujarnya.

Pria yang pernah memperoleh pendidikan dari Akademi Militer Mujahidin Afghanistan ini berharap semua warga negara Indonesia dapat terus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan merawat kebhinekaan.

“Karena ini adalah makna atau esensi dari kemerdekaan yaitu sebuah anugerah yang Allah berikan kepada kita. Maka sebagai bentuk rasa syukur kita diberikan kemerdekaan, maka kita harus menjaga dan merawat negeri ini dengan sebaik-baiknya dengan segala macam kebhinekaannya,” kata dia.

Pria yang sebelum tertangkap aparat keamanan Pakistan pernah dihargai sebesar 1 juta USD oleh Amerika ini berharap kepada para pelaku aksi teror lainnya untuk mau kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

“Saya berharap agar para pelaku teror untuk berhenti melakukan aksinya di Indonesia. Saya ingin masyarakat yang berpikir radikal dan terindikasi melakukan tindak terorisme kembali mencintai tanah air. Karena melakukan perusakan dan membuat teror itu tidak sesuai dengan syariat Islam,” tuturnya.

Dirinya berpesan bahwa sebagai warga negara harus bisa menunjukkan rasa cinta dan menjaga tanah air Indonesia.

“Kita tunjukkan rasa cinta kita, rasa bakti kita kepada negeri ini. Artinya kita jangan banyak menuntut kepada negara, tapi berpikirlah bagaimana kita berikan kepada negara,” tandasnya.

[did]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge