0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Peringati Kematian Wartawan Udin dengan Aksi Diam

Peringatan 21 tahun terbunuhnya jurnalis Udin (merdeka.com)

Timlo. net – Sejumlah jurnalis dan warga sipil di Yogjakarta menggelar aksi diam di Titik Nol Kilometer, Yogjakarta, Rabu (16/8). Aksi ini dilakukan memeringati 21 tahun terbunuhnya jurnalis Harian Bernas, Fuad Muhammad Syafrudin atau Udin.

Dengan membentangkan spanduk dan berbagai poster bertuliskan tuntutan untuk menuntaskan kasus pembunuhan Udin, belasan peserta aksi yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Untuk Udin (K@MU) berdiri sembari menutup mulutnya dengan lakban berwarna hitam.

Salah satu peserta aksi, Tri Wahyu menuturkan, sudah belasan Kapolda berganti tetapi belum ada satu pun yang mampu menyelesaikan kasus pembunuhan jurnalis Udin. Setiap pergantian Kapolda, selalu dijanjikan penuntasan kasus tersebut. Namun tidak terealisasi.

“Ini sudah aksi ke 36 kalinya. Kami melakukan aksi setiap tanggal 16 untuk terus mengingatkan kepada publik bahwa kasus Udin hingga kini belum ada penyelesaian hukumnya,” ujar Tri Wahyu.

Aktivis dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogjakarta, Bambang MBK mengatakan, kasus Udin membuktikan bahwa praktik impunitas masih terjadi di Indonesia. Aksi untuk menuntut pengungkapan kasus Udin terus dilakukan untuk mengetuk pintu hati penguasa negara agar kasus ini dituntaskan.

“Ini merupakan impunitas yang hingga kini pelakunya belum ditangkap. Jika orang-orang jahat ini terus dibiarkan berkeliaran maka Indonesia tidak akan maju,” papar Bambang.

Selain menggelar aksi diam di Titik Nol Kilometer, K@MU sebelumnya sempat berziarah ke makam Udin yang berada di Bantul. Selain berziarah, K@MU juga bersilaturahmi dengan keluarga Udin.

Sebagaimana diketahui, Udin merupakan jurnalis Harian Bernas yang bertugas di wilayah Kabupaten Bantul. Udin meninggal dunia karena sebuah pukulan benda tumpul di kepala bagian belakangnya pada 16 Agustus 1996 yang lalu. Udin diyakini dibunuh karena sejumlah pemberitaan yang dilakukannya kala itu dianggap mengusik penguasa.

[noe]

Sumber : merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge