0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Upah Kecil, Tenaga Pembatik Sulit Dicari

Pembatik sedang sibuk mewarnai (dok.timlo.net/setyo pujis)

Sragen — Minimnya upah bagi pembatik membuat pekerjaan ini menjadi kurang begitu diminati oleh masyarakat Desa Pilang, Kecamatan Masaran, Sragen. Bahkan sebagian dari mereka mengaku terpaksa menekuni pekerjaan sebagai pembatik bukan karena pilihan, tapi karena dianggap tidak ada pekerjaan lain untuk menambah penghasilan.

 Ya dari pada nganggur di rumah, jadi dengan membatik ini bisa membantu mencari tambahan penghasilan keluarga,” ujar seorang pembatik, Mulyani (35) kepada wartawan, Jumat (28/7).

Dia mengaku sudah sekitar lima tahun menekuni pekerjaan sebagai pembatik disejumlah sentra di Desa Pilang, Masaran, Sragen. Dari pekerjaannya itu, ia biasanya mendapat upah sekitar Rp 50 ribu – Rp 100 ribu untuk satu kain batik.

Dengan pekerjaan ini sebulan bisa membawa pulang sekitar Rp 500 ribu. Mengingat untuk satu kain batik pengerjaanya cukup lama, yaitu sekitar 5-6 hari baru bisa kelar, jelasnya.

Karena sedikitnya penghasilan itu, Mulyani mengatakan tidak cukup banyak generasi muda yang tertarik. Kebanyakan dari remaja di wilayah itu, kalau tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi lebih memilih kerja dipabrik dengan penghasilan yang lebih layak. Sehingga wajar jika para pembatik di daerahnya kebanyakan adalah mereka yang sudah berumur tua.

Sementara itu, Marketing Batik Aluna, Tri Istanto secara terpisah menyampaikan, permintaan kain batik dewasa ini cenderung meningkat. Bahkan dia mengaku dalam sebulan bisa menjual tiga ribu potong kain untuk didistribusikan keberbagai daerah di Indonesia.

Kalau untuk pemintaan memang setiap tahun kita lihat cenderung ada lonjakan. Baik untuk batik tulis, cap, maupun yang printing, jelasnya.

Kendati permintaan meningkat, namun ia mengaku bahwa untuk tenaga pembatik semakin sulit. Kebanyakan tenaga pembatik yang dikerjakan di tempatnya saat ini sudah usia lanjut, atau di atas lima puluh tahun.

Memang kita akui, untuk tenaga pembatik belum terlalu banyak mendapat perhatian. Selama ini mereka yang menjadi pembatik di Desa Pilang lebih karena kemauan sendiri, tandasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge