0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Jelang Pensiun, Pejabat ini Persiapkan Peti Mati

Suradi, Staf Ahli Bupati Wonogiri (dok.timlo.net/tarnuji)
Wonogiri — Bicara soal kado ulang tahun mungkin erat kaitannya dengan kue tart ataupun lilin dan balon. Namun hal nyleneh dilakukan pejabat di lingkungan Pemkab Wonogiri ini, yang justru membeli dan mempersiapkan perlengkapan kematian.
Ya, Haji Suradi, Staf Ahli Bupati Wonogiri, dalam ulang tahunnya ke 58, bukannya meniup lilin tapi malah membeli terbelo alias peti mati untuk dirinya dan istrinya, Hajah Sularmi, lengkap dengan kain kafan. Untuk persiapan itu, Suradi sudah menghabiskan dana puluhan juta rupiah.
Mantan Kepala Dinas Kearsipan Wonogiri ini juga sudah mempersiapkan tanah pemakaman atau kuburan, liang lahat dan batu nisan yang sudah dilengkapi dengan nama terangnya. Haji Suradi atau kerap disapa Pak Suradi Prutul ini berdomisili di Dusun Tandon RT2/RW2 Desa Pare, Kecamatan Selogiri.
“Kan nanti semua makhluk hidup didunia akhirnya akan kembali ke hadiratnya.Jadi semua ini memang sudah saya niati,” beber Suradi saat dijumpai Timlo.net, di Gedung B Komplek Setda  Wonogiri, Jumat (28/7).
Dua peti mati itu merupakan kado ulang tahunnya yang ke 58, tepatnya 16 Maret lalu. Barang tersebut sengaja ia pesan sepuluh hari sebelum ulang tahunnya. Untuk membeli peti mati ia merogoh koceknya Rp 25 juta, di mana setiap satu peti mati seharga Rp 12,5 juta. Terbuat dari bahan kayu jati pilihan, yang kemudian dicat coklat tua dan dilapisi dengan lapisan anti gores.
“Umur saya kan sudah 58, falsafah jawanya kan mapan yang maknanya mempersiapkan papan (tempat),” katanya.
Lebih gila lagi, peti mati itu bukannya disimpan di ruang tertentu, tetapi diletakkan di ruang tamu. Dua peti itu kini dipergunakan sebagai meja. Akan tetapi, tak setiap tamu menyadari jika meja yang ada dihadapannya itu adalah peti mati. Menurut dia, sempat Bupati Wonogiri Joko Sutopo pun dibuatnya kaget ketika mengetahui meja itu adalah peti mati yang nantinya akan sebagai tempat peristirahatan terakhirnya.
“Peti mati ukir itu sengaja saya taruh di ruang tamu. Tapi posisinya dibalik, kemudian saya beri taplak biar tidak kelihatan, ya kalau diraba bagian bawahnya tamu baru nyadar kalau itu peti mati,” ujarnya seraya tertawa.
Pria humoris ini juga mengaku jika banyak rekannya menganggap gila dengan kelakuannya, semisal dengan ulang tahun berkado peti mati dan sebagainya.Hanya saja,ucapan sinis mereka tak dianggapnya.
Ia pun sudah mempersiapkan pemakaman nantinya. Di tempat pemakaman umum di desa tinggalnya juga sudah direnovasi dengan biaya hampir Rp 70 juta. Anggaran tersebut dipergunakan untuk mengecor jalan menuju area pemakaman serta memasangi lampu penerangan disekitar kuburan. Ada empat liang lahat dan empat batu nisan sudah disiapkan di pintu pemakaman. Dua liang lahat dipersiapkan untuk ayah ibunya, sedang dua liang lahat lagi diperuntukkan dia dan istrinya.
“Biar saja anggapan orang lain. Aku iki ora bungah nek dipuji yo ora susah nek dienyek (saya tidak bangga dipuji dan tidak susah kalau diejek),” jelasnya.
Pejabat yang hanya delapan bulan lagi pensiun ini mengaku telah mengeluarkan biaya miliaran rupiah untuk kegiatan sosial di dusunnya. Beberapa waktu lalu, ia membangun gapura dan sebuah padepokan yang dihibahkan kepada pihak dusun sebagai balai dusun.
Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge