0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dunia Suporter Indonesia Berduka, Ini Usulan dari Pasoepati

Wakil Presiden Pasoepati, Ginda Ferachtriawan (dok.timlo.net/aryo yusri atmaja)

Solo — Dunia suporter Indonesia kembali dirundung duka dengan meninggalnya dua suporter di dua tempat berbeda dalam empat hari terakhir. Pasoepati fans fanatik Persis Solo turut menyampaikan uneg-uneg sekaligus keprihatinan di dunia suporter sepak bola Indonesia.

“Kami yakin tidak ada suporter di manapun yang menginginkan peristiwa itu terjadi. Namun persoalannya adalah perlu pemahaman oleh seluruh stakeholder bahwa dibutuhkan koordinasi antara PSSI, keamanan, Panpel, dan suporter menjadi satu bagian. Meski hal itu juga belum menjadi jaminan, karena juga masih ada yang kecolongan,” ujar Wakil Presiden DPP Pasoepati, Ginda Ferachtriawan, Kamis (27/7) sore.

Anggota DPRD Kota Surakarta ini menyoroti perkembangan teknologi yakni sosial media (sosmed), turut berperan dalam menciptakan suasana tak kondusif.

“Jaman sekarang yang perlu dititikberatkan adalah pengawasan terhadap sosial media. Nyatanya banyak ditemukan berbagai bentuk provokasi justru dari sosmed. Hal ini bisa dilakukan oleh pihak aparat untuk mengawasi. Setiap organisasi suporter pasti juga punya akun sosmed yang bisa untuk koordinasi dengan stakeholder terkait.

“Banyak kasus yang ditemukan kemudian diproses oleh aparat, karena  ujaran kebencian di sosmed. Sepert Pasoepati sendiri juga berupaya menanamkan dan mengarahkan ke anggota untuk tidak perlu provokatif. Ada suporter yang memprovokasi kami di dunia maya, tidak perlu kami tanggapi,” imbuh Ginda.

Perwakilan Pasoepati sendiri turut diundang oleh Polda Jateng dalam pertemuan oleh seluruh Panpel dan suporter sepak Jateng di Semarang, Kamis siang tadi. Pihaknya menyoroti solusi dari aparat keamanan untuk melarang sejumlah organisasi suporter datang mendukung tim kesayangannya. Seperti diketahui, suporter klub PSS Sleman resmi dilarang memberikan dukungan kepada timnya saat bertandang ke markas lawan, menyusul insiden di Temanggung.

“Itu hanya solusi instan, dan bukan solusi sebenarnya. Yang perlu dibenahi itu adalah mental suporter. Perlu pendidikan dan pembinaan bagi tiap suporter untuk bisa tertib dan menjaga keamanan. Justru jangan dilarang datang, karena mereka akan bergerilya sendiri untuk nekat,” tandas Ginda Ferachtriawan.

Seperti diketahui, Muhammad Nur Ananda (21), harus meregang nyawa akibat kebrutalan oknum yang diduga suporter salah satu klub sepak bola. Korban tewas tertusuk senjata tajam, di Jalan Temanggung-Magelang, Desa Bengkal, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung, Minggu (23/7) dini hari.

Tiga hari berselang, suporter Persib Bandung meninggal dunia setelah sempat dirawat di rumah sakit, paska kerusuhan suporter dalam laga Persib Bandung kontra Persija Jakarta, Sabtu (22/7). Pemuda itu bernama Ricko Andrean (22), suporter Persib Bandung (bobotoh) yang menjadi korban pengeroyokan oleh sesama bobotoh sendiri akhirnya meninggal dunia Kamis (27/7) sekitar pukul 10.30 WIB siang tadi di Rumah Sakit Santo Yusuf, Bandung.

Ricko merupakan seorang bobotoh yang jadi korban pengeroyokan salah sasaran sesama bobotoh pada laga Persib kontra Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Sabtu (22/7) lalu.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge