0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pembangunan Pasar Klewer Timur Beresiko Molor?

Kepala Dinas Pengelola Pasar (DPP) Kota Surakarta, Subagyo (dok.timlo.net)

Solo — Pembangunan Pasar Klewer Timur berpotensi menghadapi ganjalan yang cukup berat. Pasalnya, kepastian pendanaan dari Kementerian Perdagangan sampai akhir Juli ini belum kunjung sampai ke meja Walikota Solo.

“Kita masih menunggu surat dari Kementerian Perdagangan,” kata Kepala Dinas Perdagangan Solo, Subagyo, Kamis (27/7).

Dari aspek adiminstratif, Pemkot harus mengadakan lelang penghapusan beberapa aset yaitu bangunan pasar darurat yang masih berdiri di Alun-alun utara dan bangunan Pasar Klewer Timur sendiri. Untuk diketahui, lelang penghapusan aset jarang sekali berhasil diselesaikan dalam satu kali lelang. Penghapusan pasar darurat di Alun-alun utara sendiri sudah dua kali gagal lelang karena sepi peminat.

Pemkot juga harus mengadakan lelang pembangunan pasar darurat baru dan lelang pembangunan pasar Klewer Timur. Dari pengalaman yang sudah-sudah, lelang pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemkot Solo rata-rata memakan waktu sampai dua pekan. Proses yang panjang tersebut tidak bisa dimulai sebelum surat dari Kemendagri diterima Pemkot Solo.

“Kalau sudah diterima, pedagang baru kita pindahkan dan pasar dibangun,” kata dia.

Pemindahan pedagang ke pasar darurat pun dipastikan memakan waktu. Dengan asumsi semua lancar, pembangunan fisik bisa dilaksanakan paling cepat September mendatang. Dengan demikian, kontraktor hanya punya waktu empat bulan sebelum tahun anggaran berakhir.

Kendati demikian, Subagyo tetap optimis pembangunan Pasar Klewer Timur bisa diselesaikan sebelum tenggat waktu akhir Desember mendatang. Sayangnya, ia tidak menjelaskan bagaimana ia akan mengatasi berbagai kendala yang dihadapi.

“Bisa. Saya tetap optimis bisa selesai. Belajar dari (Pasar Klewer) yang Barat, nyatanya bisa selesai kan,” kata dia.

Untuk diketahui, pembangunan Pasar Klewer Barat molor hingga tiga bulan. Proyek yang seharusnya selesai 31 Desember akhirnya diserahkan pada bulan Maret dalam kondisi belum sepenuhnya selesai. PT Adi Karya selaku pelaksana proyek pembangunan terpaksa membayar denda Rp 2,4 Miliar karena keterlambatan tersebut.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge