0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Melintas di Gunung Pegat, Waspadai Ini

Gunung Pegat, Nguntoronadi kini rawan bencana alam (dok.timlo.net/tarmuji)
Wonogiri — Meski jaman semakin modern, namun saja nama Gunung Pegat Wonogiri masih menjadi buah bibir perbincangan masyarakat. Berbagai mitos dari masa ke masa terus bergulir mewarnainya, hingga membentuk sebuah misteri alam.
Gunung Pegat yang merupakan sebuah perbukitan membentang di tapal batas wilayah Kecamatan Nguntoronadi dan Ngadirojo ini memiliki cerita seram. Mulai dari adanya makhluk-mahkluk gaib berbaju putih berambut panjang atau kerap disebut “Peri” yang kerap menggoda pengguna jalan,hingga cerita penampakan ular raksasa yang konon melintang menutup badan jalan antar propinsi. Bahkan di era tahun 70-an, Gunung Pegat sempat dicap sebagai sarangnya begal.
“Kalau tahunnya saya lupa, tapi sekitar tahun 2000-an ke sini pokoknya. Ada dua kali kejadian, dimana Gunung Pegat sempat menjadi tempat pembunuhan dan pembuangan mayat,” ungkap Sapar, warga Nguntoronadi saat dijumpai Timlo.net, Kamis (27/7).
Ketika malam hari, Gunung Pegat lebih menyeramkan lagi. Kala itu lalu lintas belum seramai saat ini. Pohon-pohon besar di kanan kiri menambah mistisnya suasana. Aroma wangi bau bunga kamboja menusuk hidung. Terlebih lagi,ditengah lokasi terdapat sebuah pemakaman umum. Konon, kemunculan makhluk gaib itu diketahui tak sembarang, hanya orang-orang tertentu saja. Mahkluk gaib yang menyerupai wanita berparas ayu itu, biasanya menggoda pengguna jalan, sopir bus, truk dan kendaraan pribadi.
“Biasanya mahkluk gaib itu menyetop kendaraan yang melintas. Tapi sebenarnya tidak mengganggu, hanya numpang, dari sini (Gunung Pegat) kemudian turunnya di wilayah Kecamatan Baturetno, kalau tidak sampai pertigaan Karangturi,” kata bapak beranak dua ini.
Sedang terkait cerita adanya ular raksasa yang melintang badan jalan, hampir semua masyarakat Wonogiri mendengar kabar itu. Namun sampai saat ini, petani itu mengaku belum pernah melihat wujud ular raksasa yang diceritakan memiliki besar sebesar pohon kelapa atau glugu itu. Dari ceritanya, ular raksasa itu suatu ketika melintang jalan,persis di atas pemakaman. Tak ayal kemunculan ular itu pun membuat macet lalu lintas dari dan menuju Wonogiri atau Pacitan. Penampakan ular raksasa tersebut terjadi selepas Isya.
Seiring waktu berjalan, cerita-cerita mistis itupun luntur dengan sendirinya. Pasalnya, lalu lintas sudah sangat ramai. Hampir setiap menit ada kendaraan melintas, geliat ekonomi sudah melahap cerita itu. Namun keseraman Gunung Pegat masih kental, lantaran lokasi itu kini kerap terjadi bencana alam, baik tanah longsor maupun pohon tumbang.
“Dua tahun silam tepatnya di 2015, seorang pengendara sepeda motor meninggal dunia, setelah motor yang dikendarainya tertimpa pohon sonokeling. Pemotor itu merupakan warga Kecamatan Batuwarno. Saat kejadian, hujan deras disertai tanah longsor,” jelasnya.
Bukannya ular raksasa yang melintang jalan, namun berganti pohon-pohon besar tumbang menutup badan jalan. Bahkan, di penghujung 2016, arus lali lintas macet total selama berjam-jam, lantaran tanah longsor disertai robohnya dapuran pohon bambu. Bahkan wilayah tersebut kini ditetapkan oleh pemerintah setempat sebagai wilayah zona rawan bencana alam.
“Saat melintas di Gunung Pegat pengguna jalan harus hati- hati, terlebih ketika musim penghujan. Karena wilayah ini rawan bencana alam,” tandasnya..
Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge