0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Begini Penanganan Anak Autisme Menurut Kresno Mulyadi

Dr Kresno Mulyadi Sp Kj saat memberikan pelatihan terapi autisme (timlo.net/heru gembul)

Solo — Penyandang autisme sangat memungkinkan untuk disembuhkan dan menjadi mainstream seperti anak-anak normal. Bahkan mereka bisa bersekolah di sekolah umum, tanpa harus diperlakukan secara khusus. Hal ini terungkap dalah pelatihan penatalaksanaan gangguan spektrum autisme yang digelar Unit Pelaksana Teknis Pusat Pelayanan Autis (PLA) Solo.

“Dengan ketatalaksanaan yang benar kondisi Autisme sangat memungkinkan untuk sembuh. Sehingga tidak memerlukan sekolah khusus, karena anak menjadi normal dan memiliki kemampuan sama seperti anak lain, baik secara kemampuan verbal dan lainnya.” ungkap Dr Kresno Mulyadi Sp Kj, Rabu (26/7).

Yang perlu diatasi dalam terapi bagi anak autis, dikatakan Kresno, adalah lima hal yakni gangguan komunikasi, gangguan sosialisasi, gangguan emosi (kemarahan dan ketakutan berlebihan), gangguan kecenderungan perilaku berulang, dan gangguan persepsi. Setelah kelima gangguan tersebut bisa diterapi dan berkurang gejalanya, maka anak akan bisa bersekolah di sekolah umum.

“Sekolah umum bisa menerima mereka. Bahkan tidak perlu sekolah inklusi yang seakan memanjakan mereka, seolah kalau kesalahan yang dilakukan anak autis harus bisa diterima dan dibenarkan. Namun mereka menjadi anak normal yang utuh, yang bisa dididik secara umum seperti individu lain,” lanjut dia.

Dalam kesempatan itu, Kresno Mulyadi juga menayangkan sebuah video yang menggambarkan bagaimana anak autis yang telah selesai masa terapinya, dan bisa hidup secara normal. Bahkan dalam video tersebut si anak menyadari bahwa dirinya pernah menjadi pribadi yang autistik. Bahkan secara mengejutkan anak dan orang tuanya membuat buku tentang autisme.

“Keberhasilan ini tentu sangat menggembirakan, setelah menjalani terapi selama dua tahun. Anak ini selalu bercerita bahwa dirinya dulu adalah individu dengan gejala autistik, namun sekarang kita bahkan tidak melihat sisa gejala autisme dalam diri anak tersebut,” terangnya.

Kresno Mulyadi ingin mengajarkan kepada PLA Solo, dengan terapi yang dikenal dengan istilah ABA atau Applied Behavior Analysis yang tingkat keberhasilannya hingga 89 persen. Selain itu juga harus didampingi dengan terapi lain yakni Biomedical Intervention Therapy, yang secara sederhana dilakukan dengan cara mengurangi porsi makanan tertentu atau diet.

“Makanan yang dikurangi, utamanya ada tiga yakni yang mengandung Kasein yang terdapat pada susu sapi beserta produk turunannya yakni es krim dan lainnya, kemudian Gluten yang ada pada biji-bijian seperti gandum dan jelai serta mengurangi gula.” kata Dia.

Hal ini erat kaitannya dengan kondisi labilitas emosi, fokus komunikasi dan sosialisasi menjadi tidak maksimal pada penyandang autis. Sebab ada mekanisme pencernaan yang salah pada penyandang autis. Diterangkan pada penyandang autisme, protein-protein yang disebabkan oleh Gluten dan Kasein ini yang seharusnya tidak terserap oleh dinding usus, menjadi terserap. Hal ini mengakibatkan protein tersebut ikut beredar dalam darah dan tertangkap oleh receptor morfin yang ada di otak.

“Terapi ini cukup dalam mengatasi anak dengan autisme. Terapi ini juga diberikan di beberapa rumah sakit di Indonesia,” kata dia.

Sementara Kepala UPT PLA Solo, Hasto Daryanto mengatakan pelatihan ini diikuti oleh sejumlah terapis dan tenaga administrasi PLA Solo. Diharapkan pelatihan ini bisa memberikan bekal yang cukup bagi terapis dan tenaga adminiatrasi dalam penanganan dan pelatihan bagi penyandang Autisme.

“Semua ikut, supaya kita lebih bisa mempersiapkan anak-anak bimbingan kita untuk bisa menjadi individu yang mandiri,” tandasnya.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge