0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Harga Singkong Anjlok

Singkong (merdeka.com)

Timlo.net – Harga singkong anjlok hingga titik terendah di tingkat petani. Di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, harga perkilogramnya hanya Rp 450.

“Harga itu jauh dari ambang batas normal harga singkong yang sebelumnya sempat di kisaran Rp 1.200 per kilogram,” kata petani singkong organik di Tulungagung, Imbang Sunardi, Senin (24/7).

Bersama beberapa koleganya, Imbang mengaku memiliki bisnis pertanian singkong seluas 25 hektare di wilayah Tulungagung selatan. Namun akibat harga jenis ubi-ubian tersebut selama 1,5 tahun terakhir, Imbang mengaku memilih tidak memanen singkong gajah miliknya, meski telah memasuki masa panen umur delapan bulan.

“Harga itu untuk ganti ongkos buruh panen dan angkutan dari lokasi ke titik distribusi penjualan saja tidak cukup. Mending dibiarkan saja sambil menunggu harga membaik,” ujarnya.

Senada dengan Imbang, petani singkong gajah lain bernama Herman juga mengeluhkan hal serupa. Tanaman singkong gajah miliknya seluas 12 hektare di daerah Sidem, Tulungagung saat ini hanya dipanen separuhnya saja, dipilih tanaman yang lokasinya dekat akses jalan.

“Sisanya tidak dipanen karena hitung-hitungannya tidak masuk, besar pasak dari pada tiang alias merugi,” katanya.

Keduanya mengaku tidak tahu persis penyebab jatuhnya harga singkong yang berkepanjangan tersebut. Namun, Herman dan Imbang Sunardi berspekulasi bahwa kondisi tidak menguntungkan tersebut diduga dipicu oleh membanjirnya tepung serta ketela impor dari beberapa negara Asia Tenggara lain, seperti Vietnam dan Thailand.

“Beberapa pabrikan tepung nasional juga gulung tikar akibat tidak ada pasokan singkong. Petani enggan panen dan kirim singkong jika harga tidak menguntungkan,” kata Herman.

Masalah-masalah yang dihadapi petani singkong sempat disampaikan paguyupan petani se-Tulungagung saat bertemu anggota DPR RI Eva Sundari, maupun sejumlah pejabat kementerian dan pemangku kepentingan lain untuk dibantu agar harga singkong kembali membaik dan stabil.

“Semua upaya itu tidak membuahkan hasil. Solusi yang mungkin sebenarnya dengan membangun industri hilir di pengolahannya, namun itu butuh investasi besar, pemerintah daerah juga tidak punya opsi solusi soal ini,” ujar Imbang.

Imbang dan Herman selama ini mengirim singkong hasil panen dan pengepulan mereka dari petani-petani kecil lain ke pabrikan singkong di Ponorogo, Jawa Timur.

Namun semenjak harga terus jatuh hingga level Rp 450 per kilogram, mereka berhenti panen dan memilih membiarkan tanaman singkong terus tumbuh liar.

“Nanti kalau sudah ada tanda-tanda harga membaik kami akan tanam lagi,” ujarnya.

[idr]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge