0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kolaborasi dengan Gamelan, Milan Sladek Tampil Memukau

Ekspresi-ekspresi yang dibawakan dalam pertunjukan Milan Sladek. (dok.timlo.net/heru murdhani)

Solo — Maestro Pantomim asal Jerman Milan Sladek tampil memukau di hadapan puluhan pasang mata yang memadati halaman Pendapa Dalem Prodjoloekitan, Jl Gatoto Subroto 32/83 Kemlayan, Solo. Seniman kelahiran Strezenic, Slowakia, 23 Februari 1938 tersebut berkolaborasi dengan gamelan dari Kemlayan dan ISI Solo.

Dengan make up putih tebal di wajahnya dan lengkung kecil hitam di atas mata, Milan muncul dari balik layar. Seringai senyum ala joker ditunjukkannya kepada penonton. Milan siap tampil enerjik malam itu.

Repertoar pertama dari Milan adalah Bunga Matahari. Bercerita tentang petani yang menanam biji Bunga Matahari. Bunga tersebut tumbuh dan memberikan manfaat bagi manusia. Pertunjukan ini berawal dari puisi yang diinterpretasi Milan sebagai impian yang tak kunjung usai, dan hidup yang terus berjalan.

Kali kedua, Milan menampilkan persetubuhan Leda dan Angsa. Terinspirasi dari mitologi Yunani, tentang Dewa Jupiter yang amat bernafsu untuk mendapatkan perempuan cantik bernama Leda. Jupiter yang ditolak oleh Leda dalam wujud manusia, mengubah dirinya menjadi angsa untuk menari Leda. Sajian ini cukup menarik, lantaran seni pantomim sangat populer di era Romawi Kuno.

Hadir dengan karya lawas berjudul Pesta, seniman pantomim senior ini menunjukkan hinggar bingar pesta dalam diam. Tampak adegan Milan sedang menikmati segelas anggur, berbincang dengan banyak orang yang hadir dalam pesta itu.

Roman percintaan berjudul Samson Und Delilah diangkat sebagai pertunjukan keempat. Karya klasik ini pernah ditampilkan Milan di Goethe Institute Jakarta pada 2008 silam.

Sebagai pamungkas, pendiri teater KEFKA (pusat seni pantomim internasional) ini menyajikan karya kolaborasi Gamelan Mask Performance. Karya ini disajikan secara spontan dan penuh improvisasi. Milan menggambarkan keterkurungan seseorang dalam ruang imaji, baik secara pikir, maupun secara jiwa. Dirinya juga berganti-ganti wajah dalam topeng, serta berganti warna kulit sebagai simbol pencarian.

“Saya tidak tahu bagaimana karya ini jadinya, bisa jadi jelek atau juga bagus, karena semua murni improvisasi,” kata dia.

Di usia yang tak lagi muda, yakni 78 tahun, Milan telah mengabdikan lebih dari separuh hidupnya untuk perkembangan seni Pantomim. Melalui penampilan eksperimentalnya dan keterbukaannya pada segala bentuk teater, Milan menghasilkan karya-karya monumental seperti Road of Don Juan, Swan Lake, Cho-cho San, dan Icarus.

“Saya berterimakasih atas semua yang hadir, serta pemain gamelan, sangat indah sekali permainan tadi,” ucapnya puas.

Sajian berdurasi satu jam tersebut, swbelumbya dibuka dengan tari Sekar Taji dari seniman Ndalem Prodjoloekitan. Pertunjukan Milan Sladek ini akan kembari digelar pada Sabtu (22/7) malam di lokasi yang sama, dan akan berakhir pada Minggu (23/7).

 

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge