0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Diskusi Sastra Enny Arrow Tak Diijinkan Polisi, Ini Sebabnya

diskusi sastra erotika Enny Arrow (merdeka.com)

Timlo.net — Dituduh mengandung unsur pornografi, kegiatan diskusi bertema ‘Diskusi Sastra Erotika Membaca Enny Arrow’ yang akan digelar pada Selasa (25/7) mendatang di Kopium Kafe di Jalan Tusam Raya, Kawasan Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah mendadak tak mendapatkan ijin dari polisi.

Sekretaris Dewan Kesenian Kota Semarang (Dekase) Daniel Hakiki merasa sangat kecewa dengan pembatalan acara diskusi tersebut. Karena rencananya dua pembahas yaitu dosen Undip Semarang Khatibul Umam dan Purwo Nugroho Adi dari Openmind Community akan hadir.

“Tiba-tiba didatangi tiga anggota kepolisian di malam hari. Tanpa sebab musabab yang jelas pihak kepolisian meminta kepada kami agar tidak melaksanakan diskusi itu,” ungkap Daniel Jumat (21/7).

Alasan polisi, Daniel mengungkapkan, dikhawatirkan acara diskusi itu dapat memicu kegaduhan di tengah masyarakat. Lantaran diskusi itu mengangkat unsur pornografi.

Padahal, dia menjelaskan, pihak panitia menggelar diskusi karya kesusastraan bersama komunitas pemuda se tempat tanpa melihat dari unsur atau sisi pornografinya.

“Bukan fokus sisi pornonya. Padahal diskusi seperti ini kan sering digelar di beberapa tempat di Semarang maupun di Yogyakarta. Toh ketika dulu saya pernah berdiskusi soal buku G30S PKI di sini juga enggak masalah,” jelas Daniel.

Meski demikian, pihaknya dan panitia diskusi secara berat hati akhirnya membatalkan acara tersebut usai mendapatkan masukan dari pihak kepolisian.

“Tapi ya mau bagaimana lagi. Karena tidak boleh diadakan maka kami memutuskan untuk menunda acaranya sampai batas waktu tidak ditentukan. Ini kami rasa sangat tidak adil. Polisi hanya melihat sisi pornonya tanpa memandang kekayaan sastranya,” ujarnya.

Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Banyumanik Kompol Retno Yuli beralasan jika acara diskusi buku karya Enny Arrow mau tidak mau mengandung unsur pornografi. Termasuk menjual sisi sensualitas dari seorang perempuan. Sehingga, pihaknya meminta supaya tidak digelar di wilayah hukumnya.

“Kami tidak melarang. Tetapi, kami mengimbau jangan digelar di situ. Karena semua kegiatan berbau pornografi seyogyanya tidak diadakan di wilayah kami,” tegasnya.

Selain itu, jika acara diskusi digelar maka akan mengandung resiko yang besar terhadap pihak-pihak tertentu yang tidak sepaham dengan pandangan dan perspektif pihak penyelenggara.

Namun demikian, Retno membantah jika ada pihak-pihak tertentu yang tidak sepaham dengan pihak penyelenggara menekan dan meminta pihak kepolisian untuk membatalkan acara diskusi sastra itu.

“Tidak ada sama sekali. Cuma memang saya menerima laporan dari Kasat Intelnya seperti itu. Untuk itu, saya rekomendasikan tidak perlu dibuatkan ijinnya,” tandas Retno.

[noe]

Sumber : merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge