0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Larangan Sekolah Memonopoli Seragam Bawa Angin Segar UKM

Usaha konveksi D'Jahit kebanjiran order seragam. (timlo.net/raymond)

Karanganyar — Iklim positif usaha kecil menengah (UKM) jasa jahit seragam sekolah tak lepas dari kebijakan pemerintah melarang sekolah memonopoli pengadaannya. Hal itu diakui salah seorang pengusaha bidang tersebut asal Badan Asri, Cangakan, Reni Setyaningsih.

“Kira-kira tiga tahun lalu, sejak Pemkab membebaskan orangtua murid membeli seragam di luar sekolah, bisnis saya makin bagus,” kata pemilik toko alat tulis Jaya 88 dan konveksi D’jahit itu kepada wartawan, Kamis (21/7).

Orangtua murid, pedagang seragam eceran maupun koperasi bebas membeli ke penyedia barang tanpa perlu terkekang. Pengusaha konveksi juga lebih leluasa bersaing, termasuk dirinya.

“Di tempat saya, beli bisa partai maupun eceran. Tentunya harganya beda. Saat ini harga kain naik Rp 1.500 per meter. Ikut menaikkan harga jual. Namun di tempat saya ini, termasuk murah,” klaimnya.

Ia menyebut adanya kenaikan harga kain, per potong seragam dijualnya dari semula Rp 35 ribu naik menjadi Rp 38 ribu. Sedangkan untuk pesanan eceran dengan partai, selisih harga Rp 5 ribu per potong.

Kepala Disdikbud Karanganyar Tarsa mengatakan, para siswa baru langsung melakukan daftar ulang setelah PPDB selesai. Dalam proses pendaftaran ulang ini tidak dipungut biaya apapun seragam sekolah.

“Soal seragam, itu urusan orangtua. Tidak ada kewajiban untuk membeli seragam. Silakan para orangtua membeli di luar,” katanya.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge