0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Produsen Maknyuss Klaim Jual Beras Sudah Sesuai Aturan

(sumber: pixabay.com)

Timlo.net – Produsen beras Maknyuss, PT Indo Beras Unggul (PT IBU) menyangkal telah membeli beras subsidi untuk diproduksi menjadi beras kemasan berlabel. Pernyataan ini disampaikan menyusul penggerebekan oleh kepolisian di gudang milik perusahaan tersebut di Jalan Rengas Km 60 Karangsambung, Kedungwaringan, Bekasi, Kamis (20/7).

“PT IBU tidak menggunakan beras bersubsidi atau beras bulog, namun membeli dengan harga pasar dari petani dan mitra penggilingan lokal,” kata Humas PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) Food, Lestian (HRM) sebagai induk perusahaan PT IBU, seperti rilis yang diterima redaksi, Jumat (21/7).

Perusahaan itu, menurut Lestian, tidak menjual beras dengan harga berkali-kali lipat. Sesuai standar peraturan, penentuan harga beras premium bukan dari varietas beras, namun berdasarkan kualitas beras hasil proses produksi.

“PT IBU memproduksi kemasan beras berlabel untuk konsumen menengah atas sesuai dengan deskripsi mutu SNI,” ungkap Direksi PT TPS Food.

Perusahaan itu juuga mengklaim telah mengikuti ketentuan pelabelan yang berlaku dan menggunakan laboratorium terakreditasi sebagai dasar pencantuman informasi fakta nutrisi.

Sebelumnya, Direktur Tindak Pidana Khusus, Brigjen Agung Setya mengatakan dari hasil penyelidikan diperoleh fakta bahwa PT IBU melakukan pembelian gabah ditingkat petani sebesar Rp. 4.900.

“Bahwa perbuatan dari PT IBU dengan menetapkan harga pembelian gabah ditingkat petani yang jauh melampaui dari harga yang ditetapkan pemerintah dapat berakibat ‘mati’ nya pelaku usaha lain, dikarenakan tidak bisa maksimal dalam melakukan pembelian gabah,” ujarnya.

“Dan ini berdampak pada kerugian pelaku usaha lain (konkuren) tersebut,” tambahnya.

Selain itu, PT IBU akan memperoleh mayoritas gabah dibandingkan dengan pelaku usaha lain, petani akan lebih memilih menjual gabah ke PT IBU dikarenakan PT IBU membeli gabah Jauh di atas harga pemerintah.

“Gabah yang diperoleh PT IBU tersebut kemudian diproses menjadi beras dan dikemas dengan merek Maknyuss dan Cap Ayam Jago untuk dipasarkan di pasar Modern dengan harga Rp 13.700 dan Rp. 20.400/kg,” ucapnya.

“Harga penjualan ditingkat konsumen terhadap beras produk PT IBU tersebut juga jauh dari harga yang ditetapkan pemerintah yaitu sebesar Rp. 9.500/Kg,” sambung Agung.

Tindakan yang dilakukan oleh PT IBU tersebut menurut ahli pidana dapat dikatagorikan sebagai perbuatan curang untuk memperluas perdagangan yang dapat merugikan pelaku usaha lain.

“Penyidik menduga mutu dan komposisi beras Maknyuss dan Cap Ayam Jago yang diproduksi PT IBU, tidak sesuai dengan apa yang tercantum pada Label. Hal ini didasarkan pada hasil laboratorium pangan terhadap merek beras tersebut,” ujarnya.

“Tentunya para pelaku usaha yang terkait dengan pangan harus mengikuti harga acuan bahan pangan yang diatur pemerintah, saat ini aturan tersebut telah diperbaharui melalui Permendag 47 tahun 2017 yang ditetapkan tanggal 18 Juli 2017. (Revisi permendag 27 tahun 2017),” sambung Agung.

Penyidik menduga terdapat tindak pidana dalam proses produksi dan distribusi beras yang dilakukan PT IBU sebagaimana diatur dalam pasal 383 Bis KUHP dan pasal 141 UU 18 tahun 2012 tentang Pangan dan pasal 62 UU nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge