0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Lagu-Lagu Linkin Park Terinspirasi Dari Perjuangan Sang Vokalis Lawan Kecanduan

Chester Bennington. (Dok: Timlo.net/ Complex.com)

Timlo.net—Vokalis band Linkin Park, Chester Bennington ditemukan meninggal dunia pada Kamis (20/7) di rumahnya di kawasan Palos Verdes Estates, Los Angeles, Amerika Serikat (AS).

Semasa hidupnya, Chester mengungkapkan jika banyak lagu populer Linkin Park terinspirasi dari perjuangannya melawan kecanduan alkohol dan obat terlarang. “Saya berhasil melalui semua hal negatif yang bisa terjadi sepanjang hidup saya dengan membuat diri mati rasa terhadap rasa sakit, dan menyalurkannya lewat musik saya,” katanya dalam wawancara pada 2009 dengan situs Noisecreep.

“Tidak masalah bagi saya bila orang-orang tahu saya pernah punya masalah dengan minuman keras. Itulah diri saya dan saya merasa beruntung karena saya melakukan sesuatu terhadap hal itu,” ujarnya.

Salah satu lagu Linkin Park, “Crawling” menjadi salah satu lagu andalan dalam album mereka “Hybrid Theory”, terjual lebih dari 11 juta kopi di AS. Lirik lagu itu tertulis, “There’s something inside me that pulls beneath the surface [Ada sesuatu di dalamku yang menarik aku ke bawah permukaan]/ Consuming, confusing [menyita pikiran, membingungkan]/This lack of self-control I fear is never ending [kurangnya pengendalian diri ini kutakutkan tidak pernah berakhir].”

Berbicara soal lagu itu, Chester mengungkapkan jika lagu itu soal perasaan di mana dia tidak memiliki kendali dalam hal obat terlarang dan alkohol. “Perasaan itu, mampu menulis tentang hal itu, menyanyikan tentang hal itu, lagu itu, kata-kata itu terjual jutaan rekaman, saya menang Grammy, saya menghasilkan banyak uang,” katanya.

Seiring perkembangan karir grup itu, Chester tetap bersikeras untuk berterus terang tentang kehidupan pribadinya lewat lagu-lagunya. “Studio rekaman bukanlah tempat yang aman untuk saya kecuali saya melakukan apa yang perlu saya lakukan—merawat diri sendiri, jujur, terbuka, mengungkapkan diri, mengambil langkah-langkah yang membuat diri saya utuh,” terangnya kepada situs Rock Sound.

“Jika bukan karena musik, saya akan mati. Seratus persen,” tambahnya.

Chester Charles Bennington lahir pada 20 Maret 1976 di Phoenix, bungsu dari empat bersaudara. Ibunya adalah seorang perawat dan ayahnya seorang detektif polisi lokal. Chester menggambarkan masa kecilnya sebagai masa kurang bahagia karena orang tuanya bercerai saat dia berusia 11 tahun. Dia juga mengaku kerap dilecehkan oleh seorang teman yang lebih tua, sejak dia berusia 7 atau 8 tahun hingga dia berusia 13 tahun.

“Hal itu menghancurkan kepercayaan diri saya. Seperti kebanyakan orang, saya terlalu takut untuk berkata apapun. Saya tidak ingin orang berpikir saya gay atau saya berbohong. Pengalaman itu pengalaman yang sangat buruk,” terangnya soal pelecehan itu dalam sebuah wawancara dengan majalah Kerrang! Pada 2008.

Chester menemukan penghiburan dengan menulis puisi yang dipenuhi kemarahan, menggambar dan pada akhirnya di dalam musik. Dia menyatakan jika Stone Temple Pilots dan Depeche Mode adalah dua band yang mempengaruhi musiknya. Sebagai seorang remaja, dia mulai band pertamanya, Grey Daze, dan memperoleh beberapa penggemar.

Di usia 23 tahun, dia menikah dan bekerja di bidang yang tidak dia sukai. Seorang kenalan di industri musik mengiriminya sebuah demo band Xero. Band itu menampilkan Mike Shinoda, rapper dan penulis lagu California yang mencampur hip-hop dan suara rock.

“Saya tidak pernah pura-pura jika saya bisa bersuara sendirian. Saya memiliki melodi yang hebat di kepala saya dan saya tidak bisa menyanyikannya. Saya ingin menemukan seseorang yang bisa membawakannya dengan baik,” ujar Mike Shinoda. Setelah mengaudisi beberapa vokalis, dia memilih Chester. Bersama, mereka menjadi Linkin Park.

Album “Hybrid Theory” dirilis oleh Warner Bros Records pada 24 Oktober 2000. Emosi yang jujur dan genre musik band itu akhirnya membuat album itu disukai banyak orang.  Chester berkata jika kepopulerannya mempengaruhi hidup pribadinya. Pada 2005 dia bercerai sebagai puncak dari kebiasaannya minum minuman keras. Kebiasaan yang dipicu oleh kepopulerannya. Dia ingat saat itu dia curhat dengan anggota Linkin Park lainnya pada 2006. “Saya tahu saya punya masalah minum, masalah obat terlarang dan bagian-bagian dalam hidup pribadi saya berantakan tapi saya tidak sadar seberapa besar pengaruhnya untuk orang-orang di sekitar saya sampai mereka berterus terang tentang hal itu,” ujarnya.

Pada 2006, Chester menikahi Talinda Bentley, seorang guru sekolah dan mantan model. Pada 2007, Chester mengungkapkan jika istrinya menjadi korban orang yang menguntitnya online secara agresif. Pelakunya berhasil memperoleh nomor jaminan sosial keduanya. Hal ini membuat Chester yang terkenal terbuka untuk para penggemarnya menarik diri.

“Hal itu memicu kemarahan yang tidak biasanya Anda alami,” katanya kepada Wired. Pelakunya adalah seorang wanita bernama Devon Townsend, dan dia dihukum penjara dua tahun pada 2008.

Selain sang istri, Chester meninggalkan enam orang anak. Dalam wawancara terkait album terbaru Linkin Park, Chester bersikap optimis. “Di mana saya sekarang ini pada 2017 sangat berlawanan dengan di mana saya pada 2015. Saya sebelumnya sungguh-sungguh membenci kehidupan dan saya seolah berkata, ‘Saya tidak ingin punya perasaan.’ Dan sekarang saya seolah berkata, ‘Bring it on!’” katanya kepada Rock Sound.

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge