0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kak Seto Ingin Buat Gerakan Anti Bullying

Kak Seto (merdeka.com)

Timlo.net – Kasus bullying mahasiswa Universitas Gunadarma (UG), M Farhan yang sempat viral, beberapa waktu lalu menjadi sorotan publik. Psikolog sekaligus pemerhati anak Seto Mulyadi atau Kak Seto mengatakan, dirinya merasa tertantang dengan kasus tersebut.

“Saya juga tertantang dengan kasus tersebut, tadi sempat berbicara dengan Wakil Rektor III untuk ikut langsung memeriksa dalam waktu satu atau dua hari ke depan apakah betul M. Farhan anak berkebutuhan khusus atau tidak,” kata Kak Seto, Rabu (19/7).

Dosen Psikolog Universitas Gunadarma ini menyebutkan, fenomena bullying di Indonesia kerap terjadi. Ini telah berlangsung salah satunya di dunia pendidikan.

“Ini mungkin fenomena gunung es bukan hanya di Universitas Gunadarma mulai dari kampus lain juga ada mulai dari IPDN,” ucap dia.

Masalah bullying ini, lanjut Kak Seto harus menjadi komitmen dunia pendidikan di Indonesia mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah atau bisa juga membuat pergerakan anti bullying.

“Semacam membuat gerakan anti bullying betul-betul di gelorakan dalam jalur pendidikan formal. Sesuai dengan Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 tentang pencegahan dan penanggulangan tindak kekerasan di sekolah, dengan tegas melarang itu,” ucap dia.

Selain acuan pada Permendikbud, lanjut Kak Seto harus ada kontrol dari warga sendiri atau dari kampus misalnya dari BEM, para mahasiswa, dosen, bahkan dari para orang tua mahasiswa.

“Supaya betul-betul berjalan peraturan itu, kita semua harus peduli, soal bullying itu sederhana, padahal bullying bisa membuat orang bunuh diri itu yang tidak diwaspadai oleh para pendidik baik pendidik di rumah orang tua, maupun pendidik di kampus,” ujarnya.

Kak Seto berpesan kepada masyarakat untuk berhati-hati dengan media sosial seperti contoh M Farhan yang merasa terpojok dengan label anak berkebutuhan khsusus atau autis gara-gara media sosial.

“Makanya kita harus berhati-berhati dengan berita dari media sosial karena media sosial kadang-kadang. Kecuali dari media resmi mungkin ada editornya,” ujarnya.

“Mohon itu juga jangan ditelan mentah-mentah dan mungkin ini juga akan melukai hati dari korban itu sendiri, saya normal kok di bilang ABK, tanpa maksud mendiskriminasikan ABK dengan memberikan label itu,” ucap dia.

Selain itu, Kak Seto juga berharap kepada dunia pendidikan untuk serius untuk menanggapi bullying, sebab akan merusak psikologi siswa.

“Bullying itu bisa merusak psikologi siswa atau mahasiswa, anak jadi tidak semangat balajar, anak jadi frustasi, tidak PD, atau menjadi pelaku bullying di masa akan datang tidak akan memutus mata rantai jadi terus menerus,” jelas dia.

[hrs]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge