0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pemblokiran di Indonesia, Telegram Hapus Semua Channel Terkait Terorisme

(merdeka.com)

Timlo.net—Minggu (16/7), pendiri aplikasi perpesanan Telegram, Pavel Durov menulis di channel Telegram-nya jika perusahaannya telah menghapus semua channel publik terkait terorisme. Semua channel itu adalah channel yang dilaporkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Indonesia.

Langkah ini diambil setelah Indonesia memblokir aplikasi chat itu, Sabtu (16/7). Pemerintah Indonesia menyatakan jika pemblokiran itu karena alasan keamanan terkait penggunaan Telegram sebagai alat komunikasi para teroris. Pemblokiran Telegram tidak akan mempengaruhi platform sosial media lainnya.

“Pemerintah mendeteksi kehadiran ribuan aktivitas komunikasi di antara negara-negara [di Telegram] yang menimbulkan aktivitas terorisme,” ujar pernyataan Presiden Jokowi.

“Masih ada ribuan yang lolos,” tambahnya.

Akan tetapi Pavel menyatakan jika dia tidak sadar pada permintaan yang dibuat oleh Indonesia pada awalnya untuk menghapus channel-channel itu. Dia mengaku jika terjadi miskomunikasi. “Telegram sangat terenkripsi dan berorientasi pada privasi, tapi kami bukanlah teman para teroris,” katanya.

Ini bukanlah pertama kalinya Telegram dikritik karena menyediakan platform yang aman untuk para teroris merencanakan serangan secara rahasia. Bulan lalu, layanan keamanan Rusia merilis sebuah pernyataan jika mereka memiliki informasi yang bisa dipercaya jika Telegram digunakan untuk merencanakan sebuah serangan bom bunuh diri di Saint Petersburg.

Sebagai tambahan dari penghapusan channel-channel yang dilaporkan, Pavel berkata komunikasi langsung dengan pemerintah Indonesia telah dibentuk untuk menyelesaikan masalah itu. Mereka juga membentuk tim khusus yang paham bahasa dan budaya Indonesia untuk melaporkan konten-konten berbau terorisme dengan lebih cepat dan akurat.

Perusahaan-perusahaan sosial media secara umum dikritik berbagai negara untuk peran mereka dalam menyebarkan ide-ide ekstrimis. Untuk itu, Facebook, Twitter dan YouTube mengumumkan sebuah inisiatif gabungan disebut the Global Internet Forum to Counter Terrorism, untuk menghapus konten-konten terkait terorisme bulan lalu.

Sumber: CNET.

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge