0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Gunungkidul Mulai Kekeringan, Begini Cara Warga Cari Air

Kekeringan di Gunungkidul, DIY (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Memasuki musim kemarau, kekeringan beberapa bulan belakangan ini terjadi di Gunungkidul, DIY. Akibatnya warga kesulitan untuk mencukupi kebutuhan air bersihnya. Warga bahkan harus rela memanfaatkan sisa air telaga untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya.

Salah satu daerah yang mengalami kekeringan cukup parah membuat warga terpaksa memanfaatkan sisa air telaga ada di Ngricik, Desa Melikan, Kecamatan Rongkop, Gunungkidul. Untuk mendapatkan air bersih, warga harus membuat lubang kecil di Telaga Banten.

Padahal Telaga Banten sudah mulai mengering sejak 2 bulan yang lalu. Telaga yang terletak di perbukitan karst ini sudah tidak ada airnya, tanah retak retak karena hujan sudah tidak turun sejak empat bulan terakhir.

Berdasarkan pengamatan di lapangan pada Minggu (16/7), terdapat belasan galian warga di Telaga Banten. Namun sebagian sudah mengering. Hanya ada tiga lubang yang masih ada airnya. Kedalaman lubang ini mencapai 50 cm.

Dari lubang air buatan warga ini, setiap harinya puluhan ember dan jeriken digunakan untuk mengambil air. Tetapi air ini tidak bisa langsung digunakan oleh warga. Perlu diendapkan lebih dahulu agar air menjadi jernih dan layak digunakan.

Salah seorang warga yang mengambil air dari lubang di telaga ini adalah Sukini (56). Sukini menyampaikan bahwa hujan sudah tak turun sejak beberapa bulan terakhir menyebabkan air telaga yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari habis. Tempat penampungan air hujan miliknya juga sudah mengering. Tak ada warga yang menggunakan sumur karena wilayah tersebut berada di perbukitan karst cukup sulit menemukan sumber air dangkal.

“Setiap pagi dan sore biasanya ngambil air di telaga. Pakai jerigen biasanya. Jarak telaga dari rumah 500 meteran. Saya jalan kaki dari rumah ke telaga,” jelas Sukini.

Sukini menuturkan bahwa PDAM yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan air bersih tak mampu menjangkau wilayah Sukini tinggal. Padahal pipa air PDAM sudah terpasang.

“Saya juga beli air dari tangki air swasta. Beli Rp 120 ribu untuk kebutuhan sehari-hari. Satu tangki bisa untuk satu minggu. Kalau ambil air di telaga untuk mencuci dan minum ternak,” urai Sukini.

Berdasarkan data dari BPBD Gunungkidul, ada tujuh kecamatan yang mengalami kekeringan yakni Panggang, Purwosari, Tepus, Tanjungsari, Paliyan, Rongkop, dan Girisubo. Meliputi 32 desa meliputi 254 padukuhan dengan jumlah Kepalala Keluarga 9.046, dan 45.230 jiwa. [bal]

Sumber: merdeka.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge