0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Hendak Disidang Kasus Narkoba, Pria Ini Bertingkah Aneh

Ilustrasi Sidang (merdeka.com)

 

Timlo.net — Ada kejadian tidak biasa di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis (13/7). Seorang terdakwa tampak berbeda dari yang lain, dia terus bicara melantur dan bersikap jauh dari normal.

Sejak diturunkan dari mobil tahanan yang khusus membawanya, terdakwa itu terus berbuat aneh. Berjalan dengan telanjang kaki dari Jalan Pengadilan, dia terkadang melakukan tos dengan pengujung yang ada di halaman PN Medan.

Saat akan sampai di pintu PN Medan, dia menghormat. Sejurus kemudian dia menangis. Begitu juga saat dia didudukkan di bangku pengunjung PN Medan. Dia terus bicara melantur.

“Harus ada sidang naik helikopter, bukan mobil tahanan. Nanti aku bajak aja helikopter di Lapangan Merdeka,” ucapnya.

Dia juga tak segan-segan meminta rokok kepada pengunjung di PN Medan. Tingkahnya yang tidak normal pun menjadi perhatian di sana.

Setelah ditelusuri, terdakwa itu bernama Budi Santoso alias Budi Bewok (37). Warga Jalan Perwira 1 Kelurahan Pulo Brayan, Medan Timur, ini didakwa dalam perkara narkotika setelah ditangkap petugas Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut pada 3 Maret 2017. Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwanya dengan Pasal 114 ayat (2) sub 112 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika‎.

“Untuk barang bukti saya tidak tahu. Hari ini, sudah sidang ke-3. Kalau JPU (Jaksa Penuntut Umum) bernama Sri Lastuti dari Kejati Sumut. Ketua Majelis Hakimnya, Answar Idris‎,” kata Kepala Seksi Bidang Administrasi/Perawat Rutan Klas IA Tanjung Gusta Medan, Jaka Manurung.

Jaka mengatakan Budi memang mengalami gangguan jiwa‎. Namun, dia tidak mengetahui persis sejak kapan kondisi itu terjadi.

“Dia sudah mengalami gangguan jiwa sejak masuk ke Rutan pada 4 Mei 2017,” sebut Jaka di PN Medan.

Budi dijadwalkan akan menjalani sidang ke-3 di PN Medan. Namun, pihak Rutan tidak dapat menghubungi JPU. Akibatnya, sidang ditunda hingga pekan depan.

“Hakim minta surat merah atau kartu merah sebagai surat keterangan bahwa Budi mengalami gangguan kejiwaan. Itu harus disiapkan JPU. Namun, jaksanya saya telpon, dua-dua nomor handphonenya sudah tidak aktif ini,” tutur Jaka.

Sesuai Pasal 44 KUHP, penderita gangguan jiwa tidak dapat dipidana. Hakim dapat memerintahkan untuk memasukkannya ke rumah sakit jiwa selama-lamanya 1 tahun untuk diperiksa.

[ded]

Sumber : merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge