0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dengan Kentongan, Desa Ini Berlakukan Jam Belajar

Desa Pulutan Kulon, Kecamatan Wuryantoro, Wonogiri menerapkan sistem keamanan lingkungan berbasis kentongan (dok.timlo.net/tarmuji)
Wonogiri — Selain nguri-uri kebudayaan Jawa, masyarakat Desa Pulutan Kulon, Kecamatan Wuryantoro, Wonogiri mencoba mengembangkan sistem keamanan lingkungan keamanan dan sistem informasi tradisional berbasis kentongan (Simantra Tong). Bahkan dengan kentongan, mereka ingin memberlakukan budaya jam belajar bagi anak sekolah.
“Langkah ini sudah kami lakukan sejak bulan lalu. Kami berkaca pada kejadian-kejadian fatal (kematian, pencurian, bencana alam, kebakaran dan untuk kumpulan), dimana warga bukannya mengambil handphone karena eranya kan teknologi tapi pertama kali yang diambil adalah kentongan, karena ketika kentongan dipukul warga sudah tanggap akan adanya pesan,” beber Kepala Desa Pulutan Kulon , Sulistiyo Wibowo, Kamis (13/7).
Kentongan akan digunakan untuk menerapkan jam belajar bagi pelajar di desanya yang terdiri dari 11 dusun dihuni sekitar 1863 KK. Diutarakan, jam belajar untuk pelajar akan dilakukan pada pukul 19.00 WIB dan berakhir pada pukul 21.00 WIB. Gebrakan yang dilakukan ini pun ternyata mendapat respon positif dari masyarakat.
“Jadi sistemnya, ketika jam belajar dimulai akan ditandai dengan pemukulan kentongan di 10 penjuru desa secara gobyok (bersamaan televisi dimatikan semua) dan hal itu juga dilakukan di saat berakhirnya jam belajar usai,” kata Pak Kades.
Namun demikian, tidak melupakan fungsi aslinya, kata Sulistiyo, kentongan juga masih tetap menjadi sistem keamanan lingkungan. Akan tetapi ada sedikit perbedaan dengan metode Siskamling lainnya, jika sistem ini tidak diperlukan lagi ronda kampung, warga hanya cukup membunyikan kentongan dari dalam rumah ataupun teras saja.
Pihaknya telah menyusun kode atau kapan waktunya kentongan dibunyikan. Setiap KK diwajibkan memiliki kentongan sebanyak dua buah. Satu diletakkan di dalam rumah, sedang satunya lagi digantung di teras rumah. Menurut dia, dengan adanya bunyi kentongan disetiap waktu, diharapkan pencuri tidak berani memasuki desa setempat.
“Warga kami sudah mengetahui jadwal kapan kentongan ini dibunyikan. Bahkan dalam setiap pergantian jam, kentongan selalu berbunyi yang sudah kami seting di beberapa penjuru. Tak hanya itu, ketika fajar menyingsing kami pun membunyikan kentongan sebagai tanda bahwa saatnya untuk bangun dan mempersiapkan segala aktivitas kita di pagi hari, yang ibu-ibu bisa mempersiapkan bahan untuk memasak. Yang terang, dengan adanya bunyi kentongan, warga ini mudah tanggap dan peka akan segala sesuatu, karena semua umur sudah pasti mengetahui makna dari setiap bunyi kentongan,” tandasnya.
Bupati Wonogiri Joko Sutopo melalui Kasatpol PP Wonogiri Waluyo mengapresiasi terobosan yang dilakukan warga dan pemerintah desa setempat. Dia pun berpesan agar masyarakat lebih waspada akan segala bentuk tindak kejahatan. Dia mengatakan bunyi kentongan memiliki makna tersendiri, mulai dari pembunuhan (rojopati) pencurian, bencana alam (banjir), kebakaran, marabahaya, keributan, hingga terakhir kalinya adalah keamanan.
“Tapi kami berharap tidak hanya tindak kejahatan dalam artian colong jupuk (pencurian) saja yang diwaspadai tapi juga perlu mewaspadai moralitas generasi muda agar tidak kecolongan yang berimbas pada hal-hal yang negatif,” pesannya.
Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge