0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pulutan Kulon Simpan Kentongan Berusia Satu Abad

Kentongan warisan turun temurun terbuat dari kayu langka, buatan tahun 1914 masih terawat (dok.timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Desa Pulutan Kulon, Kecamatan Wuryantoro, Wonogiri ternyata menyimpan belasan kentongan yang dibuat dijaman sebelum masa penjajahan. Bahkan, hingga kini kentongan yang berusia satu abad itu masih dipergunakan  turun temurun.

“Di Desa Pulutan Kulon ini ada 13 kentongan yang umurnya sudah ratusan tahun. Mulai dari jaman pemerintahan Demang (setingkat kepala desa di jaman kerajaan) hingga saat ini sudah di era Kepala Desa,” beber tokoh masyarakat Desa Pulutan Kulon, Suwardi saat ditemui Timlo.net, di Pendopo Balai Desa setempat, Kamis (13/7).

Menurut dia, kentongan yang saat ini masih diuri-uri tersebut terbuat dari kayu pilihan,yang saat ini konon keberadaannya telah punah. Warga setempat menyebutnya dengan nama kayu “Elo”. Semua kentongan langka itu,merupakan peninggalan masa-masa pemerintahan Demang (Kades), Kamituwo dan Kebayan (Kadus) yang ada di Desa Pulutan Kulon. Kentongan memiliki panjang sekitar dua meter dengan diameter sekitar 50 sentimeter.

Disebutkan, seperti satu kentongan yang dibuat oleh pemimpin kademangan di masa lampau yakni Ki Demang  Taru Sudarno di era tahun 1914 hingga 1947. Selanjutnya, kentongan itu berganti pemilik yakni Patmo Tanoyo( Kades Pulutan Kulon 1) tahun 1947 – 1974. Lalu bergeser ke tangan Kades selanjutnya yaitu Somo Suwito (Kades 2) di tahun 1974 hingga 1989.

” Saat ini kentongan itu dipergunakan oleh anak keturunan Patmo Tanoyo, ya memang pada sebagian badan kentongan sudah dimakan jaman,” kata dia.

Selain kentongan milik Demang, ada 12 kentongan yang berukuran besar dengan umur yang hampir sama, dibuat pada tahun 1914. Kentongan itu pun dimiliki oleh 11 kamituwo/ kebayan  di 11 dusun di desa setempat ,yang sampai saat ini  dipergunakan oleh para Kadus. Dicontohkan, seperti kentongan peninggalan Kebayan Mangun Tisno yang dahulu kala memerintah Padukuhan( Dusun) Mojo , kemudian kentongan milik Kebayan Karsorejo di Dusun Kaliguwo,kentongan milik Kabayan Marto Dikromo di Dusun Jatisari, kentongan milik Kebayan Kromo Semito di Dusun Gedangrejo.

“Sedang kentongan di tujuh dusun lainnya ini juga merupakan milik kamituwo atau kebayan namun tahun pembuatannya pada kisaran 1917 hingga 1989,” jelasnya.

Tokoh seniman Srandul ini menambahkan, di jamannya kentongan memiliki filosofi yang tinggi. Dengan kentongan, kala itu masyarakat dapat dengan cepat tanggap akan adanya peringatan ataupun imbauan dari pemangku pemerintahan. Terlebih lagi, kentongan milik Demang atau Kamituwo dianggap memiliki aura tersendiri.

“Seingat saya, kentongan milik Mbah Demang itu kalau dipukul bunyinya bisa menggema dan terdengar hingga radius tujuh kilometer. Ya, namanya orang jaman dulu, setiap punya hajat apa saja termasuk mau membuat kentongan pasti ditirakati (ritual) puasa satu hari satu malam,” tandasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge