0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Santriwan Terserang Difteri Terkait Kurangnya Pemahaman Imunisasi

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar Cucuk Heru Kusumo (timlo.net/raymond)

Karanganyar — Kejadian meninggalnya santriwan sebuah pondok pesantren di Matesih akibat penyakit difteri menunjukkan sosialisasi pentingnya imunisasi perlu lebih digalakkan. Pemkab Karanganyar meminta kalangan tertentu penolak imunisasi lebih bijak bersikap.

“Apa harus jatuh korban jiwa dulu sampai mereka akhirnya mau mengimunisasi anaknya? Ini sungguh ironis. Lagipula mereka yang menolak imunisasi apakah mau menjamin anak-anak kebal serangan penyakit? Pemerintah itu tidak asal-asalan menganjurkan pemberian imunisasi,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar Cucuk Heru Kusumo kepada Timlo.net, Rabu (12/7).

Kematian santriwan asal Cirebon yang mengenyam pendidikan di pondok pesantren di Matesih sangat disayangkan. Kondisinya memburuk saat dirawat di sebuah klinik di kampung halamannya itu. Akhirnya, bocah lelaki usia 12 tahun itu meninggal dunia pada Ramadan kemarin.

Setelah ditelusuri, gejala terserang difteri sudah terlihat saat di lingkungan pondok pesantren. Bahkan penyakit itu menular ke salah seorang santriwan lain. Beruntung temannya asal Jumantono itu bisa diselamatkan meski harus dirawat intensif di RSUD Dr Moewardi.

Cucuk tak memungkiri difteri merupakan penyakit mematikan. Namun, hal itu bisa diatasi dengan imunisasi. Melihat kecenderungan yang sama pada santri di ponpes, tim diperintahkan menelusuri riwayat mereka sejak balita, terutama pemenuhan kebutuhan kekebalan tubuh.

“Apakah mereka sudah diberi imunisasi dasar secara lengkap dan presentasinya ideal? Sebenarnya ada imunisasi booster untuk penguatan kekebalan tubuh bagi mereka yang sudah berusia bukan kanak-kanak lagi,” katanya.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge