0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dua Terdakwa Korupsi e-KTP Sesali Perbuatannya

Sidang kasus e-KTP (merdeka.com)

Timlo.net – Dua terdakwa korupsi proyek e-KTP, Irman dan Sugiharto mengaku menyesal mengorupsi anggaran proyek tersebut. Hal itu dia ungkapkan saat membacakan pembelaannya di ruang sidang Pengadilan Negeri Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (12/7).

Terdakwa Irman, mantan Dirjen Kependudukan Catatan Sipil di Kementerian Dalam Negeri mengatakan, tindakan korupsi yang dilakukannya lantaran ketidakmampuannya mengabaikan segala intervensi dari berbagai pihak.

“Saya sangat menyesal atas ketidakmampuan saya intervensi yang mencemari niat baik saya. Saya sangat menyesal uang yang saya terima dari Andi Agustinus alias Andi Narogong yang dititipkan, tidak langsung saya kembalikan,” kata Irman saat membacakan nota pembelaannya, Rabu (12/6).

Dia mengakui menerima uang dari Andi Narogong yang dititipkan melalui terdakwa Sugiharto, mantan Pejabat Pembuat Komitmen di Kemendagri. Meski mengakui, dia menyebut bahwa uang yang diterimanya tidak serta merta digunakan untuk keperluan pribadi.

Beberapa diantaranya digunakan sebagai dana fasilitas tim supervisi dalam rangka kegiatan sosialisasi penerapan e-KTP di seluruh provinsi Indonesia.

“Penerimaan uang yang dititipkan kepada terdakwa 2 (Sugiharto) sebesar USD 200.000 jujur saya akui namun uang sejumlah USD 200.000 saya serahkan Suciati dan dikelola untuk keperluan pendanaan tim supervisi e-KTP,” jelasnya.

Berdasarkan surat tuntutan yang disusun oleh tim jaksa penuntut umum KPK, Irman menerima uang USD 573.700 dan Rp 2.298.750 juta serta SGD 6.000. Dari keseluruhan total uang tersebut, sebagiannya dibantah oleh Irman.

“Uang yang dititipkan ke terdakwa 2, sebesar R 1 Miliar dan ditukar dalam bentuk SGD 100.000 oleh Yosef (Yosef Sumartono, anak buah Sugiharto) demi Allah saya tidak pernah terima uang tersebut baik secara langsung atau tidak langsung. Dalam bap terdakwa 2 tidak pernah berikan keterangan memberikan uang Rp 1 Miliar ke saya,” jelas dia.

Seperti diketahui Irman dituntut penjara 7 tahun denda Rp 500 juta dengan pidana pengganti berupa kurungan penjara selama 6 bulan. Sedangkan Sugiharto dituntut hukuman pidana penjara 5 tahun denda Rp 400 juta subsider 6 bulan.

Keduanya juga dikenakan pidana tambahan dengan kewajiban membayar uang pengganti. Untuk Irman diwajibkan membayar USD 273.700, dan Rp 2 Miliar, serta SGD 6.000, apabila tidak mampu mengganti harta benda Irman akan disita sesuai dengan jumlah uang pengganti tersebut. Akan tetapi jika harta benda tidak mencukupi, Irman dipenjara selama 2 tahun.

Sedangkan untuk Sugiharto sebagai terdakwa kedua dikenakan pidana tambahan membayar uang pengganti sebesar Rp 500 juta atau setidaknya jika tidak mampu membayar dilakukan penyitaan terhadap harta bendanya sehingga mencapai angka Rp 500 juta. Jika harta benda pun tidak mencukupi maka ia diwajibkan menjalani hukuman penjara 1 tahun.

[noe]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge