0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Naikkan Harga Tak Wajar, PKL Perlu Diedukasi

Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) AUB Surakarta, Dr Agus Sutomo (dok.timlo.net/tyo eka)

Solo — Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) AUB Surakarta, Dr Agus Sutomo menyatakan, perlu dilakukan antisipasi terhadap naiknya harga makanan yang tidak wajar yang dilakukan oleh oknum Pedagang Kaki Lima (PKL) pada saat lebaran. Kejadian naiknya harga makanan tidak wajar itu dikecam Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo sebagai hal yang memalukan.

“Salah satunya, adalah pemerintah daerah dalam hal ini dinas terkait perlu melakukan antisipasi terhadap tindakan edukasi para PKL pada beberapa minggu sebelum memasuki bulan Puasa. Karena pada bulan Puasa harga bahan makanan biasanya sudah naik,” jelas Agus Sutomo yang juga Pakar Perilaku Ekonomi, saat menanggapi kecaman Walikota Solo itu, di ruang kerjanya, Kampus STIE AUB Surakarta, Rabu (12/7).

Pada beberapa minggu menjelang Puasa, menurut Agus, dinas terkait seperti Dinas Perdagangan, Perekonomian, termasuk Dinas Pariwisata agar melakukan pembinaan dalam hal ini edukasi kepada PKL. Dinas-dinas tersebut harus memiliki bekal cukup terkait substansi harga bahan makanan pada saat menjelang lebaran, lebaran hingga pasca lebaran.

“Edukasi itu dilakukan pada PKL-PKL yang berada terutama lokasi-lokasi dimana banyak dikunjungi wisatawan dari luar kota Solo, pemudik lebaran yang lewat Solo. Karena kota Solo memang merupakan kota transit pemudik lebaran,” jelasnya.

Menurutnya, edukasi dimaksudkan agar para PKL tersebut tidak menaikkan harga makanan yang dijajankannya di luar kewajaran. Maksud di luar kewajaran, yakni menaikkan lebih dari dua kali lipat dari harga normal yang biasa dijajankan pada hari biasa.

Kalau menaikkan harga di luar kewajaran, kata Agus, tentu akan menyebabkan kapok orang yang datang atau mampir di kota Solo. Karena akan muncul anggapan harga makanan di Solo mencekik leher. “Kalau sudah muncul anggapan itu, yang terjadi orang-orang enggan jajan di Solo. Dampak ke depan, dinamika ekonomi bakal lambat. Yang rugi kita semua masyarakat Solo,” ujarnya.

Lebih lanjut Agus mengatakan, edukasi yang dilakukan oleh dinas terkait, terutama memberi pemahaman kepada PKL bahwa Solo adalah kota transit. Kota yang pada waktu menjelang Lebaran, Lebaran dan pasca Lebaran dilalui oleh ribuan pemudik dan wisatawan.

“Potensi ekonomi seperti itu jangan sampai disia-siakan karena olah sesaat,” ujarnya.

 

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge