0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kasus Persetubuhan Anak, Hotel Dituding Kurang Selektif

Ilustrasi (dok.merdeka.com)

Wonogiri — Terungkapnya kasus tindak pidana persetubuhan anak yang dilakukan dua pelajar, HR (17) dan MPK alias Putri (15) warga Kecamatan Ngadirojo menjadi tamparan keras bagi Pemkab Wonogiri. Terlebih setelah dikukuhkannya 3.060 Satgas PPA oleh Menteri PPPA Yohana Susana Yembise, pekan lalu. Mucul stigma di masyarakat, Pemkab seakan-akan tak berdaya mengatasi kasus kekerasan seksual terhadap anak.

“Oleh karena itu, Tim Satgas PPA bersama Camat Ngadirojo Agus Hendradi, hari ini langsung mengunjungi rumah korban. Hal ini kita lakukan untuk mengetahui apakah korban mengalami trauma atau tidak. Selanjutnya, pendampingan terhadap korban bisa dilakukan. Tak hanya korban, pelaku yang masih di bawah umur itu juga akan mendapatkan pendampingan dalam menjalani proses hukum,” beber Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Wonogiri, Reni Ratnasari, melalui Kapala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) P2KBP3A, Rodhiyah, Selasa (11/7).

Dia menyebut, berdasarkan kronologi laporan yang diterimanya, korban tergolong aktif mencari pelaku sebelum terjadi persetubuhan alias menthel (genit). Sedangkan pelaku di desanya terkenal playboy.

“Makanya tim langsung ke rumah korban, memantau kondisi psikologisnya, apakah biasa saja atau trauma,” jelasnya.

Maraknya kasus kekerasan seksual, imbuh Rodiyah, juga adanya andil dampak dari kurang selektifnya pihak  pengelola hotel melati di Wonogiri. Pasalnya, kasus persetubuhan anak tersebut terjadi di sebuah hotel melati di seputaran Waduk Gajah Mungkur (WGM) di Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri. Dia berharap agar Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Polres melakukan penertiban untuk mengantisipasi hal serupa terjadi lagi.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge