0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ledre Martini Pernah Diborong Istri Pejabat

(foto: Utami)

Timlo.net – Bermimpi menyekolahkan anak hingga meraih gelar sarjana adalah harapan mayoritas orangtua. Begitu juga dengan Sri Martini Budisutrisno (76), janda berputra empat ini menginginkan anak-anaknya memiliki taraf hidup yang lebih baik dengan jalan bersekolah.

Namun, cita-cita Martini inilah yang justru mengubah hari-harinya kini. Upayanya dalam membesarkan dan menyekolahkan anak ditempuh dengan jalur usaha rumahan pembuatan kue ledre. Tak dinyana, pasar menyambut baik semanis ledre buatan Martini.

“Dulu waktu anak-anak masih kecil, suami saya meninggal, saya bingung harus bagaimana menghidupi keluarga. Karenanya saya belajar membuat ledre dari saudara di Salatiga. Lalu itu saya geluti sampai sekarang,” kata Martini saat dijumpai TimloMagz.

Pagi-pagi betul, seusai salat Subuh, Martini segera menyiapkan bahan-bahan pembuatan ledre, mulai dari beras ketan, pisang, dan parutan kelapa. Dengan cekatan tangan Martini mengupas pisang dan memotongnya kecil-kecil. Pisang itu ditaruhnya ke dalam sebuah wadah plastik, sambil ditekan-tekan dengan menggunakan kepingan kecil dari batok kelapa.

“Pisangnya harus yang benar-benar matang, supaya manis dan tidak keras,” celotehnya sambil terus melumatkan pisang.

Dari wadah yang lain, adonan beras ketan bercanpur parutan kelapa. Kemudian dirinya menggoreng adonan tersebut di atas wajan kecil dengan api yang kecil. Setelah itu, pisang yang sudah lumat diletakkan di tengahnya sambil membentul lingkaran pada adonan.

Setelah berwarna agak kecokelatan, Martini melipat ledre yang sudah hampir matang itu menjadi setengah lingkaran, dan membaliknya, sambil terus menekan-nekan adonan di penggorengan. Setelah matang, jadilah ledre panas yang siap disantap.

“Sudah begini saja, bumbunya hanya garam yang dusah dicampur dalam adonan. Tanpa pengawet dan tidak pakai minyak,” kata dia.

Tahun ini adalah tahun ke 34, Martini bergulat dengan bahan-bahan ini setiap hari. Manisnya Ledre Solo ini turut mengharumkan nama Kampung Batik Laweyan yang terletak di ujung barat Kota Solo.

“Yah, dengan begini sampai akhirnya saya biaa menyekolahkan anak-anak saya. Bahkan sekarang anak saya yang bungsu juga ikut mengembangkan usaha ini dengan membuat warung di samping Kelurahan Laweyan,” kata dia.

Ledre yang dijual Rp 2.500 perpotong ini cukup digemari masyarakat, dan kerap dijadikan buah tangan bagi pelancong. Bahkan hotel-hotel di kawasan Solo juga kerap memesan panganan legit ini.

Martini mengisahkan, yang paling berkesan adalah saat pembukaan pasar Klewer pada awal 2017 silam. Dirinya diminta membuka stand dalam bazzar panganan yang dilaksanakan di pelataran Klewer.

“Itu Ibu Presiden datang, trus dia bilang ayoo ini Ledre Solo, dilarisi. Wah, langsung diserbu ibu-ibu pejabat dan menteri Mas. Saya bawa 1000 potong langsung habis. Itu juga masih ada yang ngirim orang ke rumah minta dibuatkan, tapi saya sudah tidak mampu,” katanya.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge