0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Desain Interior Kian Hijau

(foto: Utami)

Timlo.net – Beberapa bulan lalu, mobil listrik buatan Tesla bakal mengaspal di Jalanan tanah air. Mobil yang tidak “minum” bahan bakar minyak itu diyakini lebih ramah lingkungan dibanding Low Cost Green Car (LCGC) yang sudah hemat bahan bakar.

Lampu hemat energi sudah lama menggantikan lampu-lampu biasa. Gerakan daur ulang pun mulai menjamur di wilayah permukiman. Di beberapa daerah, 10 persen luas lahan harus didedikasikan untuk ruang terbuka hijau sebagai syarat mendapatkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Singkatnya, gaya hidup ramah lingkungan atau green life saat ini sedang hot-hotnya.

Seperti ranah desain pada umumnya, bidang desain interior pun terus berkembang mengikuti tren di masyarakat. Termasuk tren green life yang terus naik daun. Bahan-bahan yang lebih “hijau” perlahan mulai menggantikan bahan-bahan konvensional. Rotan dan kayu misalnya, kini mulai digeser oleh rotan sintetis dari plastik atau kayu olahan dari limbah industri mebel.

“Bahan-bahan itu dianggap lebih ramah lingkungan karena diperoleh tanpa mengeksploitasi hutan,” kata salah satu pengajar Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS), Muhammad Muqofa kepada TimloMagz belum lama ini.

Tak hanya didorong oleh kesadaran masyarakat, pergeseran ke bahan-bahan sintetis juga dipicu oleh semakin langkanya bahan-bahan baku dari alam. Akibatnya, harga bahan-bahan alami seperti rotan dan kayu meroket. Produk-produk interior dengan bahan sintetis pun dianggap sebagai alternatif yang lebih terjangkau.

“Apalagi tak jarang, bahan alternatif itu memiliki kelebihan. Seperti rotan sintetis, dia lebih tahan cuaca. Lebih mudah perawatannya,” kata dia.

Meski bahan-bahan alternatif kian diminati, Muhammad menegaskan bahan alami tidak akan sepenuhnya terganti. Permintaan produk-produk desain interior dengan bahan alami akan tetap ada. Terutama untuk kalangan dengan finansial kuat. Tak hanya di masyarakat, di kalangan desainer pun jug terjadi perbedaan mazhab tersebut.

“Tetap ada kalangan tertentu yang konservatif. Yang namanya kayu ya harus kayu beneran. Bukan kayu sintetis,” kata dia.

Terlepas dari masalah bahan, tren ramah lingkungan tetap menjadi primadona di kedua mazhab. Di kalangan desainer interior, kesadaran untuk memilih bahan baku dari sumber-sumber yang sustainable (berkelanjutan) pun mulai tumbuh. Hal itu dilakukan misalnya dengan mengambil kayu resmi dari hutan-hutan budidaya. Atau memakai kayu alternatif dengan masa panen lebih singkat namun tetap mempertahankan kualitas.

“Orang mulai bertanya-tanya, ini kayunya bener nggak sumbernya,” kata dia.

Selain itu, faktor ekonomi bahan juga menjadi faktor yang mendorong pertumbuhan green design. Mebel, kusen, cat, dan lain sebagainya didesain sedemikian rupa sehingga bahan yang dipakai bisa diminalisir. Limbah pun ditekan semaksimal mungkin agar pengerjaan desain semakin ekonomis. Ujung-ujungnya, hasil akhir memilki nilai yang sama dengan biaya yang lebih murah.

Dua Gaya Desain Masih Bertahan

Dari sisi gaya desain, Muhammad mengatakan gaya desain etnis dan kontemporer akan terus mendominasi sampai beberapa tahun ke depan. Dua gaya itu sudah beberapa lama berebut pasar. Kalangan desainer pun terbelah menjadi dua aliran tersebut.

“Kalau saya amati, kira-kira dua sampai tiga tahun ke depan masih akan seperti itu,” kata dia.

Gaya kontemporer umumnya cenderung mengikuti perkembangan zaman. Mirip gaya desain modern, desain kontemporer lebih menekankan fungsi dari estetika. Ornamen-ornamen yang rumit biasanya dihindari. Bedanya, gaya kontemporer memberi sentuhan-sentuhan kekinian. Tergantung gaya desain yang sedang ngetren saat itu.

Lain halnya dengan desain tradisional atau etnis. Gaya ini lebih menekankan arti simbolis dari ornamen-ornamen penghias. Karena “dibebani” banyaknya ornamen seperti ukiran dan motif-motif rumit, desain etnis cenderung lebih sulit diproduksi. Hal ini berdampak kepada harga akhir yang biasanya lebih mahal.

“Tapi memang desain etnis lebih bisa menunukkan identitas pemiliknya. Makanya, dia tetap diminati,” kata dia.

Meski beberapa desainer berupaya menggabungkan dua gaya yang bisa dibilang berseberangan itu. Hasilnya pun, menurut Muhammad, cukup unik dan menarik. Namun diakui, belum banyak desainer yang mengadopsi penggabungan dua aliran itu.

“Memang sudah sudah ada bangunan yang menggabungkan desain kontemporer dengan etnis. Di Jakarta ada beberapa. Tapi sepertinya butuh waktu agak lama untuk jadi mainstream,” kata dia.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge