0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

3 Mahasiswa UNS Sulap Tempurung Kelapa Jadi Alat Pemurni Udara

Tiga mahasiswa Kimia UNS, Alfiyatul Fithri, Yayan Dwi Sutarni dan Burhan Fatkhur Rahman (dok.timlo.net/tyo eka)

Solo — Tiga mahasiswa Program Studi (Prodi) Kimia Fakultas Matematika dan IlmuPengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) baru-baru ini menyulap limbah tempurung kelapa dijadikan alat pemurni udara. Ketiga mahasiswa tersebut adalah Alfiyatul Fithri (angkatan 2015), Yayan Dwi Sutarni (angkatan 2014) dan Burhan Fatkhur Rahman (angkatan 2014).

“Untuk menyulap limbah tempurung itu kami mendapat bimbingan dosen Dr.rer.nat. Maulidan Firdaus MSc,” ungkap Fithri kepada wartawan, Kantor Humas UNS, Solo, Rabu (5/7).

Fithri mengatakan, saat ini produksi kelapa Indonesia sangat besar. Berdasarkan catatan Dirjen Perkebuan pada tahun 2014 produksi kelapa mencapai 3.025.313 ton per tahun. Sedang pemanfaatan tempurung kelapa hingga saat ini, masih belum maksimal. Bahkan tempurung kelapa masih dianggap sebagai limbah.

“Karena masih dianggap limbah tidak berguna, maka kami memiliki inisiatif untuk menyulap limbah tempurung kelapa tersebut untuk dijadikan alat pemurni udara,” ujarnya.

Berawal dari itu, kata Fithri, lalu dibuat proposal penelitian. Bahkan selanjutnya berhasil lolos dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Karsa Cipta pada bulan Maret 2017, dengan judul “Aptucos (Air Purification Tools Using Coconut Shell): Alat Pemurni Udara Inovatif Sebagai Alternatif Pertolongan Pertama Korban Asap Regional Kebakaran”.

“Tim kami mendapat biaya penelitian dari Dikti sebesar Rp 10 juta,” ujarnya.

Ketua Tim Penelitian, Alfiyatul Fithri mengatakan, butuh waktu sekitar empat bulan hinggaberhasil membuat inovasi konsep Aptucos yaitu alat pemurni udara dengan kombinasi air dan karbon tempurung kelapa sebagai komponen dalam proses filtrasi.

Pembuatan Aptucos, menurut Fithri, secara tidak langsung dapat mengatasi dua permasalahan. Pertama, mengurangi angka kematian korban karena terjebak asap regional. Kedua, mengurangi jumlah limbah tempurung kelapa di Indonesia.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge