0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ini Kisah Cinta ABG dan Nenek yang Menghebohkan

Pria ABG menikahi nenek 71 tahun (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Niat Selamet Riyadi (16) untuk menikahi wanita pujaannya tak mampu dibendung. Sempat ditolak kedua belah pihak keluarga, pernikahan yang menjadi buah bibir itu akhirnya terjadi. Selamet mempersunting seorang perempuan, Rohaya (71), yang lebih pantas menjadi neneknya.

Keduanya menjadi pasangan suami istri setelah Selamet mengucapkan ijab kabul dalam pernikahan sederhana di rumah ketua RT Desa Karang Endah, Kecamatan Lengkiti, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, Minggu (2/7) malam. Prosesi ijab kabul disaksikan pihak keluarga, kepala desa, warga yang dipimpin penghulu. Foto-foto pernikahan mereka membuat heboh di media sosial.

Kepala desa setempat, Cik Ani, membenarkan pernikahan dua warganya jauh berselisih usia itu. Dirinya mengaku ikut turut menyaksikan mempelai pria melakukan ijab kabul di hadapan penghulu.

“Benar, pernikahannya tadi malam. Keluarga dan warga banyak yang menyaksikan,” ungkap Cik Ani, Senin (3/7).

Dia menuturkan, pernikahan ini awalnya mendapat pertentangan dari masing-masing keluarga. Perbedaan usia yang cukup jauh 55 tahun, menjadi pertimbangan. Pihak keluarga juga merasa malu karena akan menjadi perbincangan orang-orang.

Selamet dan Rohaya sudah menyampaikan niat suci itu sejak sebulan lalu. Mendengar penolakan, lanjut Cik Ani, keduanya pun mengancam akan sama-sama bunuh diri dengan menenggak racun rumput. Wakil keluarga mendatangi rumah Cik Ani, dan karena akut dengan ancaman itu, keluarga akhirnya memberikan restu yang disampaikan melalui perangkat desa.

Saat menikah, Selamet menyerahkan mas kawin berupa uang Rp 200.000 kepada saudara tua istrinya yang menjadi wali nikah. Keduanya pun resmi menjadi pasangan suami istri.

“Mereka (Selamet dan Rohaya) ngancam mau bunuh diri kalau tidak dinikahkan, katanya minum racun rumput. Makanya saya cepat-cepat temui, syukur keluarga menerima,” ujarnya.

Menurut dia, penolakan keluarga bukan karena masalah ekonomi, tetapi semata-mata dilatarbelakangi faktor usia. Keluarga khawatir pernikahan itu justru menjadi aib dan omongan warga kampung.

“Alhamdulillah keluarga ngerti setelah saya kasih pemahaman, mungkin itulah jodohnya, siapa yang tahu,” pungkasnya. [bal]

Sumber: merdeka.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge